Sikap Bijak Menghadapi Amal Yang Tidak Sesuai Sunnah


Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Orang yang berbuat bid’ah itu ada 3 komponen;
1.       Tokoh bid’ah. Jangan dekat-dekat dengan tokohnya. Karena mereka memiliki tujuan lain.
2.       Orang-orang yang berpendidikan, namun mereka menganggap ini baik. Mereka masih bisa diperbaiki dan diajak diskusi.
3.       Masyarakat awam. Mereka tidak bisa disalahkan, karena mereka ikut-ikutan tergantung siapa yang ajak. Jangan dimusuhi, rangkul mereka, ajak, beri hadiah.
Itu semua harus disikapi dengan ilmu. Maka berbekallah ilmu yang cukup, mempelajari Al Quran dan Sunnah secara benar, dan mengetahui di mana letak bid’ah, mengapa terjadi bid’ah, dan bagaimana mendudukkan bid’ah itu.
Saat menghadapi masyarakat, jangan sebut kata bid’ah. Ucapkanlah; itu tidak sesuai dengan sunnah. Sebab orang pada umumnya sudah alergi dengan kata bid’ah. Sebab pandangan orang jika disebut bid’ah, berarti tempatnya neraka. Itulah yang membuat mereka alergi.
Ta’liq:
1.       Tidak boleh Tabdi’ (membid’ahkan) dan Tadhlil (menganggap sesat) hal-hal yang diperdebatkan oleh imam mujtahid empat madzhab, seperti qunut dan sejenisnya.
2.       Orang yang terjerembab dalam satu atau dua kebid’ahan tidak boleh langsung divonis sebagai ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah. Dan karenanya pula ia tidak boleh langsung dimusuhi, kecuali bid’ah yang berat sesuai kesepakatan Ulama’, seperti bid’ah orang-orang Syiah, Mu’tazilah, Khawarij, serta firqah-firqah yang disepakati sesat lainnya.
3.       Harus dibedakan antara bid’ah aqidah dan bid’ah ibadah. Masing-masing disikapi sesuai dengan porsinya.
Tanskrip & Ta’liq: Muizz Abu Turob حفظه الله