Wahai Penguasa Muslim! Tunaikan Amanah di Pundakmu


Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Berbicara masalah amanah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah membebankan amanah kepada seluruh manusia, yakni amanah untuk menjalankan Syariat Allah
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” 
(QS. Al-Ahzab: 72)
Apabila manusia tidak menjalankan amanat itu maka ia baik menjadi zalim maupun menjadi bodoh. Amanat di sini adalah risalah ilahiyyah, di mana kita siap menjadi hamba Allah untuk menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Mengemban amanah ini bukanlah sesuatu yang sepele dan ini merupakan beban yang luar biasa yang sudah kita terima sebagai hamba Allah yang telah kita nyatakan,
إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al An’am: 162)
Dan amanah inilah yang tidak sanggup diemban oleh langit, bumi, dan gunung-gunung itu. Karena mereka nanti akan menjadi debu dan tidak ada pertanggung jawaban sama sekali. Akan tetapi manusia akan mempertanggung jawabkan seluruh perilaku, ucapan, dan seluruh keyakinan yang ada pada diri mereka sesuai apa yang mereka lakukan di dunia ini.
Karenanya Allah mengingatkan kita semuanya, yaitu dalam QS. Al Anfal: 27,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Maksudnya; Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian berkhianat kepada Allah, berkhianat kepada Rasulullah berarti kalian telah mengkhianati amanat-amanat yang ada pada kalian, sementara kalian telah mengetahui itu semua.
Tentunya ungkapan ini adalah segala bentuk amanat yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita untuk kita jalankan sebagai hamba Allah, bila tidak dijalankan maka itu berarti kita telah berkhianat. Seperti seorang pemimpin, seorang guru korupsi waktu, seorang suami yang seharusnya membimbing istri dan anak, begitu juga dengan pedagang.
عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِى قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا ».
Dari Abu Dzar berkata, “Dulu aku katakan; Wahai Rasulullah, tidakkah anda memberiku jabatan? Dia (Abu Dzar) mengatakan, “Lalu beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau. Seraya berkata, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah dan jabatan itu adalah amanah, dan akan menjadi petaka serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali siapa yang memperolehnya dengan cara yang benar dan menunaikan amanahnya.” (HR. Muslim, 4823)
Ketika kita sudah menyatakan Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in maka kita harus mampu menjalankan amanat itu secara konsekuen, secara benar, dan bersungguh-sungguh untuk bisa melaksanakan sesempurna mungkin sesuai dengan kemampuan kita. Jika itu tidak dilaksanakan maka yang terjadi adalah penghianatan dan pengkhianatan.
Tidaklah segala bentuk kemaksiatan, kekafiran, kemunafikan, dan kefasikan kecuali itu semua adalah pengkhianatan-pengkhianatan manusia yang disebabkan karena 2 hal;
1.      Dia tahu yang benar kemudian ia langgar, maka ia laksanakan pengkhianatan itu dengan kesadaran, dan itulah orang zalim.
2.      Dia tidak tahu kalau itu salah kemudian ia menjalaninya atas ketidak tahuannya itu, dan itulah orang yang jahil.
Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang 3 orang hakim yang satu di surga dan dua di neraka, sabda beliau;
القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ : قَاضِيَانِ فِي النَّارِ ، وَقَاضٍ فِي الجَنَّةِ ، رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ الحَقِّ فَعَلِمَ ذَاكَ فَذَاكَ فِي النَّارِ ، وَقَاضٍ لاَ يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَهُوَ فِي النَّارِ ، وَقَاضٍ قَضَى بِالحَقِّ فَذَلِكَ فِي الجَنَّةِ.
“Hakim itu ada 3; dua di neraka dan satu di surga. Seorang hakim yang memutuskan hukum tidak dengan benar dan ia ketahui hal itu maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang tidak tahu yang benar (bodoh) sehingga ia melanggar hak-hak manusia maka ia di neraka. Sedang hakim yang memutuskan sesuatu dengan benar maka ia di surga.” (HR. Turmudzi 1322. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Amanat yang terbesar adalah amanat menjalankan risalah ilahiyyah ini, inilah misi umat islam yang harus ditunaikan dengan benar apapun posisi mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهْوَ مَسْؤُولٌ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهْوَ مَسْؤُولٌ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهْيَ مَسْؤُولَةٌ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan dimintai pertanggung jawaban. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan ditanya, seorang suami adalah pemimpin dan akan ditanya akan keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya, seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya. Ingatlah bahwa tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya.” 
(HR. Bukhari, no. 5188)
Ada dua ayat yang dengannya para ulama mengingatkan para penguasa, dan dengan ayat itu pula para ulama membuat konsep politik dalam Islam di dalam mengatur negara dan masyarakat untuk mensejahterakan mereka baik duniawi maupun ukhrawi. Yaitu dalam QS. An Nisa’: 58-59
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ إِنَّ اللّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila amanah itu dilenyapkan/dilanggar maka tunggulah kehancurannya.” Ia berkata, “Bagaimana pelanggarannya, Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apabila perkara itu dilimpahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.” 
(HR. Bukhari 6496)
Tanskrip & Takhrij: Muizz Abu Turob حفظه الله