Warisan Salaf : Ilmu Disertai Akhlak Mulia


Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Yang harus kita warisi dari Salafush Shalih adalah ilmu yang disertai Akhlakul Karimah (mulia). Seringkali orang belajar ilmu, namun tidak didahului akhlak yang mulia, akibatnya ia sombong dengan ilmunya, ia congkak dengan kemampuan dirinya, ia merasa kebenaran hanya ada pada dirinya, sedangkan yang lain salah.
Seakan-akan orang seperti itu ingin menguasai matahari seraya berkata, “Ini milikku!”, sedangkan orang lain tidak boleh mendapat matahari. Apakah itu mungkin? Itu mustahil.
Mengapa ini perlu disebutkan? Karena banyak yang mengaku mengerti ilmu syar’i, namun tidak ditunjang dengan akhlak mulia, tidak ditunjang dengan tazkiyatun nufus, tidak ditunjang dengan adab yang seharusnya dikedepankan bagi orang yang berilmu.
Inilah jiwa yang perlu kita tumbuhkan saat menerima ilmu-ilmu dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, yang mana beliau telah bersabda;
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesunguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmidzi, no. 2682. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)