Antara Dua Jalan

 

Oleh : KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله

 

Penyimpangan itu memiliki dua sebab;

Pertama, Suu-ul Fahm (pemahaman yang buruk), seperti Nasrani.

Kedua, Suu-ul Qashd (niat yang buruk), seperti Yahudi.

 

Kemudian ada dua jalan dalam memahami syariat;

Pertama, Sabilul Mu’minin (Jalannya orang-orang yang beriman)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

 

Kedua, Sabilul Mujrimin (Jalannya para pendosa)

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quraan (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55)