Data Diri

Pengalaman Dakwah Pedalaman

Pengalaman Dakwah Pedalaman

Data Diri
    Oleh : Farid Ahmad Okbah   Perjalanan ke Irian itu butuh 6 jam bahkan lebih dari itu. Apalagi jika harus mampir dulu ke Surabaya, lalu Makassar, lalu Jayapura, baru ke Marauke, mungkin perjalanan bisa seharian di perjalanan. Itu pakai pesawat, apalagi pakai kapal laut, itu bisa berhari-hari. Saya masuk ke pedalaman-pedalaman sampai di Marauke, lalu lebih dalam lagi ke sungai Mapi. Ternyata kaum muslimin itu ada di mana-mana. Saya juga sudah masuk ke Keimana, Fak-Fak, sampai pedalaman Jaya Wijaya. Di daerah Jaya Wijaya itu ada satu kampung namanya Walesi, penduduknya masuk Islam semuanya. Pimpinan kaumnya memiliki isteri 8 dalam satu rumah. Menurut syariat tidak benar, namun kita tidak bisa serta-merta memaksakan itu haram. Perlu waktu untuk menyadark...
Sifat Terbuka Syaikhuna Farid

Sifat Terbuka Syaikhuna Farid

Data Diri
Syaikhuna Farid حفظه الله adalah sosok yang terbuka, siapapun bisa dan mudah akrab dengan beliau. Sampai-sampai banyak yang mengaku orang dekatnya Ustadz Farid. Kalo Antum merasa dekat, banyak yang lain juga merasa dekat. Memang begitulah sifat beliau. Yang kaya, yang miskin, yang jomblo, yang beristri, pokoknya semuanya beliau senyumi, sambut, sapa. Masya Allah... Kata-kata beliau yang akhir-akhir ini membuat kita sedih adalah "Umur ini sudah dekat dengan kuburan, maka saya harus melakukan dakwah strategis." Beberapa kali beliau mengucapkannya. Kini beliau sudah berumur 55 tahun. Semoga Allah panjangkan umur beliau dan memberkahi setiap waktu dan langkah beliau. Aamiin. Allahumma taqabbal Tulisan salah seorang murid beliau
Data Diri
Tolok Ukur Benar itu Apa? Kata Syaikhuna Farid   Syaikhuna Farid Okbah حفظه الله pernah menceritakan kepada kami; bahwa pernah sempat ada yang seorang Ustadz kelompok eksklusif berkunjung ke rumah beliau. Ustadz ini adalah seorang alumni Universitas Madinah. Ia sering mendengar dari para asatidz eksklusif lain, bahwa Syaikhuna adalah sosok yang begini dan begitu. Ia pun ingin tabayyun dan datang langsung ke Bekasi untuk mencari kejelasan. Sesampainya di kediaman Syaikhuna, ia menceritakan segala hal yang ia dengar. Banyak oknum-oknum yang menyudutkan Syaikhuna, tapi itu justru membuat Syaikhuna semakin dikenal para penuntut ilmu dan kaum muslimin seantero Indonesia. Syaikhuna mendengarkan pemaparan si Ustadz dengan tenang. Setelah selesai berbicara, Syaikhuna bert
Siapa Yang Bayar? Ternyata Syaikhuna Farid

Siapa Yang Bayar? Ternyata Syaikhuna Farid

Data Diri
    Hari ini saya bertemu dengan seorang aktifis. Beliau menceritakan bahwa dahulu ia suka bergaul dengan kelompok eksklusif. Kawan-kawannya melarangnya untuk belajar dari Syaikhuna Farid Okbah حفظه الله, dengan alasan berbeda manhaj dan alasan tidak bermutu lainnya. Beliau pun tertarik untuk menelusuri siapa sebenarnya Ustadz Farid Okbah. Ada apa dengan beliau? Mengapa sampai dilarang untuk belajar dari beliau? Demikian pertanyaan yang terus menggelayuti pikirannya. Ia pun mencoba untuk mengetahui Ustadz Farid dari dekat. Biasanya Syaikhuna Farid beri’tikaf di Islamic Center Al Islam pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ia pun datang ke Al Islam untuk mengikuti kegiatan I’tikaf di sana. Ia menceritakan dahulu peserta I’tikaf begitu banyak, hingga Al Islam membludak pen
Kebutuhan Yang Terlupakan

Kebutuhan Yang Terlupakan

Data Diri
  Sungguh, seorang dai tidak cukup hanya pandai ceramah. Ia betul-betul dituntut untuk ikhlas dan memiliki tazkiyah yang baik. Inilah yang kami saksikan dari guru kita, Syaikhuna Farid Okbah حفظه الله. Jika ada waktu antara adzan dan iqamat, selama tidak ada yang ngajak bicara, beliau akan menengadahkan tangan berdoa kepada Allah. Nanti akan beliau ulangi lagi berdoa setelah shalat sunnah selesai. Tampaknya beliau lebih cenderung ke madzhab Hambali yang berpendapat tidak ada doa setelah shalat fardhu. (Pendapat ini pula yang difatwakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله) Jika beliau berpisah dengan muridnya, kami sering mendengar beliau mengucapkan, "Muwaffaqiin insya Allah... Muwaffaqiin..." (Mendapat taufik insya Allah) Dan satu hal yang tak pernah tertinggal a
Syaikhuna Farid Okbah حفظه الله Saat di Yaman

Syaikhuna Farid Okbah حفظه الله Saat di Yaman

Data Diri
    Ada sesuatu yang ingin saya tuliskan; Alhamdulillah kemarin Syaikhuna Farid حفظه الله berkesempatan untuk memberi materi kuliah di hadapan mahasiswa Al Islam, Bekasi. Di tengah-tengah pemaparan, beliau menceritakan masa-masa beliau berkunjung ke Yaman. Syaikhuna حفظه الله berkisah bahwa beliau sempat ke Darul Hadits di Dammaj, Sha'dah, Yaman. Yakni sebuah pesantren yang didirikan oleh Syaikh al Muhaddits Muqbil bin Hadi Al Wadi'i رحمه الله. Darul Hadits ini, kata beliau; ditempuh kurang lebih 6 jam dari Shan'a, Ibukota Yaman. Saat itu dari Shan'a beliau menyamar menjadi orang Yaman, berpenampilan baju, sorban, dan semuanya ala Yaman. Sebab kata beliau kala itu rawan penyamun, sehingga khawatir dirampok jika ketahuan sebagai orang 'ajam. Setibanya di Da
Firasat Ustadz Farid Okbah حفظه الله

Firasat Ustadz Farid Okbah حفظه الله

Data Diri
  Seorang ikhwan asal Bengkulu pernah bercerita kepada kami, saat Ust Farid Okbah sedang sakit setelah kecelakaan, ia sempatkan diri ke Bekasi untuk menengok beliau. Ikhwan ini memiliki kesibukan setiap hari berkutat pada herbal, bekam, dan semacamnya. Di sela-sela menjenguk, si ikhwan menyampaikan, “Ustadz, tolong carikan saya pekerjaan. Saya bingung mau cari kerja apa!” Ustadz Farid menasehati, “Pekerjaan yang bagus itu saat kita memiliki produksi sendiri. Misalnya buat pisang goreng atau keripik. Semakin hari semakin bagus produksinya, sehingga banyak yang kenal. Tapi saya lihat Antum itu cocoknya di herbal.” Masya Allah, si ikhwan pun senyum dan tidak banyak berkomentar setelah itu. Ia bergumam, “Kok Ustadz Farid bisa tepat tebakannya.” Hingga sekarang si ikhwan mas
Bersafar Bersama Syaikhuna حفظه الله

Bersafar Bersama Syaikhuna حفظه الله

Data Diri
  Copas dari FB Muizz Abu Turob Saat bersafar bersama Syaikhuna Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله, banyak hal yang kami dapat baik ilmu, pengalaman, dan masih banyak Faedah lainnya. Di antara yang membuat kami takjub dari beliau adalah sifat tawadhu' yang begitu melekat pada diri beliau. Begitu pula zikir dan doa yang menempel pada lisan beliau. Saat tiba di salah satu masjid di wilayah Jonggol, ternyata gerbang masjid belum terbuka secara sempurna. Kami pun mengatakan; "Sebentar, biar kami yang buka." Ust Farid حفظه الله yang berada di kursi depan samping sopir segera buka pintu seraya berkata, "Biar saya yang buka!" Syaikhuna sudah berumur 54 tahun, jenggotnya sudah putih semua. Sedangkan kami masih muda. Beliau langsung menggeser gerbang itu, seolah begitu memuliak
Data Diri
Tolong Jagalah Lisanmu! Syaikhuna Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله sering menasihati kami untuk hati-hati, tidak terburu-buru, dan jangan mudah memvonis, karena itu semua bukan akhlak Salaf. Bukan hanya sekali kami mendengar beliau menyampaikan; تكلّم أُعْلِمْك من أنت "Berbicaralah, akan kuberitahu siapa dirimu!" Ungkapan di atas menggambarkan bahwa jati diri seseorang tampak dari ucapannya. Sudah sejak awal Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, لا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ "Tak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus qalbunya. Tidak akan lurus qalbunya hingga lurus lisannya!" (HR. Ahmad, no. 13071. Dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 2841) Maka dari itu se
Menyombongkan Ilmunya, Oh Tidak!

Menyombongkan Ilmunya, Oh Tidak!

Data Diri
  Mulia betul akhlak Ulama... Suatu ketika kami pernah memuji Syaikhuna Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله, "Ya Syaikh, kami membaca bahwa Syaikh Bin Baaz saat beliau sakit menjelang wafatnya, beliau di pembaringan namun masih berkenan menjawab SMS, memberikan fatwa, dan menjawab salam. Subhanallah... adab yang luar biasa. Kami melihat adab-adab beliau, semua ada pada Syaikh Farid!" Tahukah Anda apa jawaban beliau? Beliau menjawab dengan penuh tawadhu', "Allahul musta'an. Saya jauh dari itu!" Masya Allah... Allahu Akbar!   Syaikh Shalih bin Abdul Alu Syaikh حفظه الله menceritakan dalam ceramahnya; Imam Ibnu Rajab, yakni Imam Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali رحمه الله adalah seorang Imam Hafidz namun begitu zuhud, wara', dan tawadh