Tazkiyah

Inti Ibadah Puasa

Inti Ibadah Puasa

Oase Rohani, Tazkiyah
    Alhamdulillah kita kaum muslimin serempak menjalankan ibadah puasa pada Ramadhan kali ini, yakni untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang telah Allah wajibkan bagi kita. Allah l berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Allah l memerintahkan kaum mukminin untuk berpuasa sebagaimana perintah itu disampaikan kepada umat terdahulu, agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Inilah musim kebaikan yang harus kita sambut dengan senang hati dan bersungguh-sungguh agar mendapat kemuliaan takwa, sebagaimana firman Alla
Tiga Dimensi Raadhan (Sambungan)

Tiga Dimensi Raadhan (Sambungan)

Oase Rohani, Tazkiyah
Kedua, Dimensi hubungan kita antar sesama Ini telah diterangkan secara rinci oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, yang dihimpun oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrad. Kitab ini berisi ribuan hadits yang menerangkan norma-norma Islam. Dimulai dari hubungan anak dengan orang tua, sampai kepada keluarga, saudara, tetangga, pembantu, bahkan hubungan dengan orang kafir. Dimensi kedua ini jangan diabaikan. Jangan hanya sholat, zikir dan ibadah saja, tapi hubungan antar sesama manusia tidak bagus. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi, no. 1195. Dishahihkan Syaikh Al Albani) Ketiga, Dimensi Terhadap Diri Sendi
Tiga Dimensi Ramadan

Tiga Dimensi Ramadan

Oase Rohani, Tazkiyah
Oleh: Farid Ahmad Okbah   Kita isi Ramadhan kita dengan 3 dimensi; Pertama, Hubungan kita dengan Allah. Terus beramal supaya kita selalu connect dengan Allah Ta’ala. Setiap penyimpangan dan pelanggaran itu sebabnya cuman satu, yaitu lupa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19) Dengan puasa Ramadhan, kita harus capai dimensi ini. Puasa adalah amal ibadah yang pahalanya tanpa batas. Ada juga amalan lain, yaitu sabar dan memaafkan. Pada bulan Ramadhan kita menggabungkan tiga hal tersebut se
Sungguh-Sungguh Ramadhan

Sungguh-Sungguh Ramadhan

Oase Rohani, Tazkiyah
  Oleh : Farid Ahmad Okbah   Jika seseorang tidak sungguh-sungguh menjalankan puasa, maka sulit baginya untuk mencapai derat takwa. Para Salaf mengatakan bahwa sholatmu akan menghantarkan kepada setengah surga, puasamu menghantarkan ke depan surga, dan sedekahmu memasukkanmu ke dalam surga. Ramadhan adalah waktu yang bisa kita manfaatkan untuk menambah dan banyak beramal shalih. Apalagi di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Gunakan waktu sebaik mungkin saat Ramadhan supaya saat keluar Ramadhan mendapatkan rahmat, ampunan, dan surga Allah
Nasihat Ikhlas

Nasihat Ikhlas

Oase Rohani, Tazkiyah
  Oleh : Farid Ahmad Okbah   Keikhlasan itu adalah puncaknya aqidah. Bagaimana seseorang bisa ikhlas? Yaitu saat ia menyadari bahwa ucapan dan perbuatan dilakukan untuk Allah Ta’ala. Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan bahwa pekerjaan paling berat dan taka da habisnya adalah mengendalikan qalbu untuk mencapai ikhlas. Tentunya perlu terus-menerus kita rawat dan jaga, supaya setiap apa yang terbetik dalam hati kita semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala
Kisah Syaikh Hammudi

Kisah Syaikh Hammudi

Oase Rohani, Tazkiyah
    Oleh : Farid Ahmad Okbah   Saya duduk bersama Syaikh Khalid Al Hammudi memenuhi undangan gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Di tengah-tengah itu, Syaikh menceritakan bahwa sejak lama beliau ingin sekali mencium kaki ibunya. Niat itu belum terwujud, namun Qadarullah beliau mengalami kecelakaan, sehingga beliau harus memakai kursi roda untuk berjalan. Beliau menyampaikan kepada ibundanya, “Wahai ibu, sesungguhnya telah lama aku ingin mencium kakimu, namun sekarang aku tak mampu dalam kondisi seperti ini?” Ibunda beliau menjawab, “Tidak mengapa nak, kamu tidak harus mencium kaki ibu!” Beliau pun mencari-cari kesempatan untuk bisa mewujudkan niatnya itu. Hingga akhirnya saat ibunya harus menjalani operasi di rumah sakit, saat itulah beliau bisa mendapa
Kejujuran Iman

Kejujuran Iman

Oase Rohani, Tazkiyah
  Oleh : Farid Ahmad Okbah   Saudaraku, jihad dengan harta dan jiwa adalah praktek dan bukti nyata dari keimanan kepada Allah Ta’ala. Iman itu tidak cukup hanya sebagai ungkapan dan angan-angan! Keimanan itu adalah suatu keyakinan yang muncul dari qalbu, diucapkan lisan, dan dibuktikan dalam perbuatan. Perbuatan itu Allah tetapkan dalam bentuk praktek nyata yaitu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Kalau saja seseorang enggan berkorban dengan hartanya, bagaimana mungkin ia korbankan jiwanya? Karena itu Imam Adz-Dzahabi menyebutkan; السَّخَاء والشَّجاعّة أَخوَانِ “Kedermawanan dan keberanian itu adalah dua saudara (bersatu).” Tidak mungkin orang pelit itu pemberani. Dan tidak mungkin seorang pemberani itu memiliki sifat pelit. Pengorb
Arah Godaan Setan

Arah Godaan Setan

Oase Rohani, Tazkiyah
  Oleh : Farid Ahmad Okbah   Allah Ta’ala berfirman; ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at).” (QS. Al A’raf: 17) Syaikh Wahid Abdussalam Bali menjelaskan; Pertama, Godaan dari depan. Maksudnya adalah setan akan menyibukkannya dengan dunia. Ini adalah salah satu fokus setan. Jika manusia telah tersibukkan dengan dunia, ia lupa kepada akhirat.   Kedua, Godaan dari belakang. Maksudnya adalah supaya manusia dilupakan akhiratnya. Sehingga orang akan sibuk dengan apa yang di
Sedang Sakit? Berbahagialah!

Sedang Sakit? Berbahagialah!

Oase Rohani, Tazkiyah
    Oleh : Farid Ahmad Okbah   Di antara cara Allah mengampunkan dosa seorang hamba adalah menimpakan kepadanya suatu penyakit. Sudah bisa dipastikan tiada seorang pun yang tidak terkena penyakit. Apapun penyakit itu, bisa flu, stroke, hipertensi, dan lainnya. Yang perlu kita sadari, bahwa penyakit adalah SURAT CINTA dari ALLAH. Dengannya supaya kita minta ampun, kembali, dan mengharap rahmat Allah. Maka dari itu kita disunnahkan untuk mengucapkan kepada orang yang sakit; Laa ba’sa thahuurun insya Allah (Tidak mengapa, membersihkan dosa insya Allah) Penyakit menjadi penghapus dosa jika ia mau bersabar, bahkan mengangkat derajatnya. Setidaknya hal ini mengingatkan kita untuk mengakui dengan jujur, bahwa kita banyak dosa.    
Qalbu Rusak Karena?

Qalbu Rusak Karena?

Oase Rohani, Tazkiyah
    Oleh : KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله   Qalbu itu rusak karena beberapa sebab: Sebab kemusyrikan, yaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain Allah ”Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah Neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.” (05. Ali lmran: 151)   Berpaling dari kebenaran dan mengikuti hawa nafsu ”...Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. ” (QS. Ash-Shaff: 5)   ”...Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memaling