Menyombongkan Ilmunya, Oh Tidak!

 

Mulia betul akhlak Ulama…

Suatu ketika kami pernah memuji Syaikhuna Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله,

“Ya Syaikh, kami membaca bahwa Syaikh Bin Baaz saat beliau sakit menjelang wafatnya, beliau di pembaringan namun masih berkenan menjawab SMS, memberikan fatwa, dan menjawab salam. Subhanallah… adab yang luar biasa.

Kami melihat adab-adab beliau, semua ada pada Syaikh Farid!”

Tahukah Anda apa jawaban beliau?

Beliau menjawab dengan penuh tawadhu’,

“Allahul musta’an. Saya jauh dari itu!”

Masya Allah… Allahu Akbar!

 

Syaikh Shalih bin Abdul Alu Syaikh حفظه الله menceritakan dalam ceramahnya;

Imam Ibnu Rajab, yakni Imam Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali رحمه الله adalah seorang Imam Hafidz namun begitu zuhud, wara’, dan tawadhu’.

Salah seorang murid Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menceritakan; kami hadir di majelis Ibnu Rajab, lalu beliau menjelaskan kepada kami suatu permasalahan dan merincinya dengan rincian yang menakjubkan.

Lalu kami bersama beliau diundang ke majelis para Qadhi senior. Ternyata mereka juga membahas sebagaimana pembahasan kami di masjid, namun penjelasan mereka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rincian Syaikh kami.

Lalu kami terus memandangi Syaikh kami, seraya sangat berharap beliau berkomentar dan menjelaskan di hadapan mereka. Namun ternyata beliau hanya diam.

Seorang murid sangat bangga dengan gurunya, dan ia berharap keutamaan gurunya tampak di hadapan Ulama lainnya.

Setelah majelis bubar, kami segera menemui beliau, lalu kami sampaikan, “Wahai Syaikh, Ahsanallahu ilaik, mengapa engkau tidak memberi mereka faedah?”

Lalu beliau menjawab, dengan jawaban seseorang yang sama sekali tidak memiliki niat untuk menyombongkan ilmunya. Beliau menjawab;

مجلسي معكم لله و هذا مجلس يراد به الدنيا

“Majelisku bersama kalian semata-mata karena Allah, sedangkan itu majelis yang mengharap dunia.”

Subhanallah… jawaban yang begitu menakjubkan…

Tahukah Anda? Syaikh Shalih Alu Syaikh menyampaikan kisah ini seraya menangis…

Beliau mengatakan;

“Tawadhu’ adalah tanda orang sukses. Sedangkan sombong adalah tanda kegagalan.”

Sampai sekarang nama Ibnu Rajab masih kita kenang, dan ilmu beliau masih mengalir.

Berbagai Faedah yang beliau telurkan masih dinikmati para penuntut ilmu.

Adapun para Qadhi itu, mungkin tidak ada satupun nama mereka kita kenal.

Sesungguhnya Allah Maha Tahu siapa yang lebih berhak mendapatkan keutamaan-Nya.

 

Cobalah lihat jawaban Imam Ibnu Rajab رحمه الله, lihat pula jawaban Syaikhuna حفظه الله!

Jawaban-jawaban yang begitu singkat, tidak panjang mereka menjawab, namun itu cermin dari ketawadhu’an mereka.

Pantaslah jika mereka Allah berikan kemuliaan.

Semoga kita dapat meniru mereka. Aamiin

 

Copas dari FB Muizz Abu Turob