11 Peran Ulama Dalam Kebangkitan Islam (Part 1)



Oleh : DR. Yahya bin Ibrahim Al-Yahya
Translate : Tim Media Farid Okbah
Murajaah : KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
__________________________________________
Ulama adalah sosok yang memiliki kedudukan tinggi di dunia dan akhirat, Allah Ta’ala berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
            Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Seluruh makhluk mengakui kedudukan ulama karena keberadaan dan kehidupan mereka memiliki peran besar. Dari Abu Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ العِلْمِ ، وَإِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ
Dan sesungguhnya malaikat meneduhkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Adapun ulama, setiap yang di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di laut akan memintakan ampun untuknya.” [1]
            
    Para ulama Rabbaniyyin, mereka lah yang disifati berilmu. Rabbaniyyinadalah jamak dari Rabbaniy, yakni sosok yang mampu menghimpun ilmu, faqih (pemahaman), dan jeli terhadap strategi dan manajemen. Ulama Rabbaniyyinlah yang menjadi tonggak manusia dalam kefakihan, ilmu, beserta seluruh masalah agama dan dunia.
Ilmu Adalah Pondasi Kebangkitan
                Allah Ta’ala berfirman,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
            Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
                Tatkala ilmu terkait dengan iman kepada Allah, maka ilmu itu akan bersih, bersih pula si pemiliki ilmu, buahnya pun akan matang. Ia menjadi rahmat, kebaikan, serta kebahagiaan bagi umat, sehingga ia akan meningkatkan kualitas umat. Ia akan menyatukan perpecahan, menghilangkan kerusakan, dan menghapus kegelapan.
                Tatkala ilmu telah terpisah dari asma Allah pada masa ini, ilmu berubah menjadi kesengsaraan, kepayahan, kerusakan, dan kesesatan! Akhirnya mayoritas manusia menyia-nyiakan umur, menghamburkan harta, dan mereka jadikan perhatian dan potensi mereka untuk hal-hal yang akan melahirkan keburukan kerusakan, penyakit, dan kematian. Mereka berlomba untuk menciptakan senjata pemusnah masal dan senjata kimia. Mereka merancang aneka ragam metode meningkatkan perekonomian dengan cara menghancurkan pangan dan hasil bumi.
                Perempuan dihinakan hingga anak-anakpun tersia-siakan. Media-media perusak dan penyesat kian cepat berkembang, narkotika merajalela, dan kehidupan manusia dipenuhi dengan kegelapan, penindasan, dan penipuan. Yang lemah ditindas, yang fakir dibuat lapar, berbagai penyakit tersebar, serta adanya genosida masal. Belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia zaman yang mengalami beragam kesengsaraan dan penyimpangan seperti yang terjadi pada era ini.


[1] HR. Tirmidzi dalam al-Jami’, no. 2682, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan lainnya, cet Maktabah Islamiyah; dan Ahmad dalam al-Musnad, no. 21715, tahqiq sekelompok Muhaqqiq, cet. I tahun 1993 M, Muassasah ar-Risalah.