11 Peran Ulama (Part 2)



Oleh : DR. Yahya bin Ibrahim Al-Yahya
Translate : Tim Media Farid Okbah
Murajaah : KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
______________________________________
Para ulama akan menyusun solusi sesuai problematika yang terjadi, mereka tetapkan planning sempurna menuju kebangkitan, mereka presentasikan di hadapan manusia peradaban yang mengayomi, yakni peradaban manusia yang lurus serta menjaga fitrah dan budi pekerti manusia. Dengan potensi dan kapabilitas yang ada, ia akan membuahkan kemaslahatan yang berujung sejahtera dan bahagia.
            Mereka menghalau umat dari kondisi dan hal-hal yang menjerumuskan kepada kebinasaan. Sebab mereka faham sunnah Ilahiyah tiada akan berubah, Allah Ta’ala berfirman,
فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
            Sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS. Fathir: 43)[1]
Mereka membawa umat di atas perahu keselamatan, dengannya lah umat akan dibawa saat melewati berbagai bahaya. Sebab mereka faham akan adanya tantangan-tantangan yang akan dihadapi umat serta pengaruh-pengaruh yang akan ditimbulkannya.
            Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Tatkala terbuka sunnah-sunnah Ilahiyyah bagi seorang hamba, ia dapat mengambil manfaat dengan memperhatikan sejarah dunia, kondisi umat-umat terdahulu, dan apa saja yang pernah dialami makhluk. Bahkan ia juga bisa melihat apa yang dialami oleh orang-orang yang sezaman dengannya, atau apa yang ia saksikan sendiri kejadian-kejadian yang ada. Saat itulah ia akan memahami makna firman Allah Ta’ala,
أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ
            Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (QS. Ar-Ra’d: 33)
            Ulama adalah manusia paling adil, dan paling menyayangi sesama, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلْفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
Ilmu ini akan diemban pada setiap generasi oleh orang-orang adilnya. Mereka akan menghapus ektrimnya orang-orang yang ghuluw, pemikiran orang-orang yang bathil, dan tafsiran orang-orang yang bodoh.”[2]
            Inilah 11 peran ulama dalam kebangkitan Islam;
Pertama, Mereka membangun kehidupan manusia di atas pondasi ilmu, keadilan, dan kemaslahatan. Mereka memperkenalkan kepada manusia akan komprehensif dan sempurnanya agama ini. Mereka hapus pemahaman yang salah, dan mereka ganti dengan pemahaman yang sebenarnya.
Kedua, Mereka menjaga jalan lurus yang ditempuh masyarakat Islami supaya mereka tidak berpecah belah dari jalan ini.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)
Mereka menjaga identitas umat supaya tidak sirna, tidak tercemari pemikirannya, menjaga kekayaannya supaya tidak hilang, menjaga cahayanya supaya tak redup, supaya umat siap untuk bangkit, supaya mereka juga seimbang baik dari sisi amal, pemikiran, akhlak, kejiwaan, dan sikap.
Ketiga, Mereka mengokohkan umat di medan “pertempuran”, menguatkan hal-hal yang dianggap remeh, mereka menciptakan kondisi-kondisi untuk melawan secara damai, serta tidak mengalihkan mereka menuju medan persaingan yang diciptakan musuh-musuh Islam.
Keempat, Para ulama Rabbaniyyin dengan segala upaya “mencelupkan” kehidupan manusia dengan iman, takwa, dan kesalehan, sebagai aplikasi dari firman Allah Ta’ala,
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً
          
  Shibghah (celupan) Allah . Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah?” (QS. Al-Baqarah: 138)
            Kelima, Menugaskan kepada setiap orang sesuai dengan potensinya, sebagai bentuk menaladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dalam mendidik para shahabatnya,
وَأَعْلَمُهَا بِالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ ، وَأَقْرَؤُهَا لِكِتَابِ اللهِ أُبَيٌّ ، وَأَعْلَمُهَا بِالْفَرَائِضِ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ
            Yang paling mengetahui halal-haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling baik bacaan Al-Qurannya adalah Ubay, dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit.” [3]
            Tidak lupa mereka juga menjelaskan bahwa eksistensi ulama tergadaikan dengan keberadaan kaum muslimin.
            Keenam, Ulama bangkit untuk menciptakan solusi-solusi terhadap berbagai masalah besar yang penting bagi kaum muslimin. Mereka berusaha untuk menyatukan barisan umat, dan seterusnya.
            Ketujuh, Perhatian terbesar bagi Ulama adalah manhaj yang membangun aqidah, meningkatkan kefakihan dalam agama, menjaga eksistensi umat, menumbuhkan optimis, izzah, dan jiwa mulia pada diri penuntut ilmu.
            Kedelapan, Ulama memperhatikan supaya dakwah sampai kepada orang-orang yang memiliki posisi penting, baik dari kalangan politikus, penulis, maupun orang-orang yang berkecimpung di media.
            Kesembilan, Menghalau kaum muslimin dari berbagai fitnah, mereka mengajarkan bagaimana sikap syar’i tatkala menghadapi sikap fanatisme golongan yang terjadi di negerinya.
            Kesepuluh, Para Ulama Rabbaniyyin bangkit untuk menghadapi arus westernisasi dan pengerusakan yang akan menjadi batu sandungan di jalan kebangkitan umat. Yaitu dengan mengembangkan yayasan-yayasan ilmiyah, dakwah, pendidikan, serta mengumpulkan khalayak untuk itu, serta memudahkan tersampainya ilmu ke seluruh lapisan masyarakat.
            Kesebelas, Mereka berhenti dari jalan undang-undang positif, yang tujuan adanya undang-undang itu untuk memberikan madharat kepada kaum muslimin di negeri-negeri minoritas dan lainnya.


[1] Madarij as-Salikin, hal. 302, oleh Ibnul Qayyim, tahqiq Abdul Aziz Nashir al-Julayyil, cet. I tahun 1403 H, Daar Thayyibah, Riyadh.
[2] HR. Thahawi dalam Musykil al-Atsar, X/16. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Tahqiq Misykat al-Mashabih, I/83.
[3] HR. Ahmad dalam al-Musnad, no. 12904, dari shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.