Cara Supaya Penguasa Takut Dengan Ulama


 
 
Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA
Allah Ta’alaberfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أن لا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.”
(QS. Fushshilat: 30)
Konsep bahagia dan sukses adalah istiqamah. Orang yang istiqamah pasti bahagia dan dia tidak pernah takut.
Muawiyah radhiyalahu anhu saat menjabat menjadi khalifah pernah meminta nasihat kepada Aisyah radhiyallahu anha, “Nasihati aku namun jangan panjang-panjang!”
Maka Aisyah menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallambersabda, ‘Siapa yang mencari ridha Allah meskipun manusia marah kepadanya, maka dia akan Allah cukupi dari rasa butuhnya kepada manusia. Dan siapa yang mencari ridha manusia meskipun Allah murka kepadanya, maka Allah akan serahkan dia kepada manusia.’
Jika seseorang dijaga oleh Allah, ia pasti bahagia dan tiada rasa takut. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Siapa yang takut kepada Allah, semua akan takut kepadanya. Jika dia takut dengan manusia, dia akan takut dengan semua.”
Izzuddin bin Abdus Salam tatkala dikepung suatu pasukan, ia pun keluar rumah dengan penuh kewibawaan, karena begitu wibawanya, dan begitu besar rasa takutnya kepada Allah, maka para pasukan berkuda dan berenjata lengkap itu semuanya merasa takut.
Demikian pula Imam al-Auza’i, suatu ketika beliau diminta datang ke istana untuk dimintai fatwa. Beliau sudah berfirasat akan dibunuh karena fatwanya tidak sesuai kehendak penguasa. Maka beliau pun bersiap-siap mandi terlebih dahulu, dan menghadap dengan memakai kain kafan. Dengan mantap beliau menjawab pertanyaan penguasa, “Bagaimana menurut Anda tentang darah yang saya alirkan (orang-orang yang dibunuh)?”
Dengan tegas beliau jawab, “Tidak halal darah seorang muslim kecuali jika melakukan tiga hal; seorang yang telah menikah berzina, yang membunuh maka dibunuh, dan murtad dari Islam. Jika Anda membunuh dengan tiga sebab ini berarti Anda benar, jika tidak berarti Anda akan berhadapan dengan Allah!”
Inilah keberanian Imam al-Auza’i, bahkan siap untuk dibunuh. Namun apa yang timbul dari diri penguasa beserta pasukannya yang begitu banyak? Mereka justru timbul rasa takut. Akhirnya beliau pun dilepaskan tanpa dibunuh.
Imam al-Auza’i ditanya, “Bagaimana Anda begitu berani menyatakan jawaban seperti itu di hadapan penguasa, padahal ia memiliki kekuasaan dan pasukan?”
Beliau menjawab, “Saya timbulkan dalam diri saya rasa takut kepada Allah dan saya melihat mereka seperti lalat-lalat.”
Rasa takutlah yang harus dimunculkan dalam hati Ulama, yakni takut hanya kepada Allah. Yang dengannya ia yakin hadapi semuanya dengan pertolongan Allah. Semoga kisah di atas menjadi teladan bagi kita. Aamiin