Syaikhuna Farid Okbah Sang “Predator” Buku

 

Oleh : Muizz Abu Turob حفظه الله

Pernah dengar istilah predator buku? sebutan bagi orang yang sangat berambisi terhadap buku. Kalo ada buku inginnya langsung “dicaplok”. Oh ya, kami minta maaf jika judul di atas jika kurang diperkenankan. Siapa tahu dengannya malah banyak yang baca.

Istilah predator buku ini saya dapatkan saat membaca buku berjudul “Best Seller Sejak Cetakan Pertama” karya Agus M. Irkham, cetakan Indiva Media Kreasi, Solo, tahun 2008.

Baik, saya ingin kembali bercerita tentang Syaikhuna Farid حفظه الله. Bagaimana kecintaan beliau terhadap buku? Syaikhuna menceritakan kepada kami bahwa beliau di LIPIA selama 13 tahun. Nah, selama itu beliau menyempatkan diri membaca buku setiap harinya 8 jam. Setiap hari berkutat dengan buku terus. Baiklah, coba kita hitung-hitung. Anggap saja setahun 300 hari, 56 harinya anggap saja liburnya dan lain-lain. Jadi kita kalikan: 300 hari X 8 Jam X 13 tahun = 31.200 jam. Keren kan? Ini namanya keren Syar’i. hehe..

Jadi kalo kita ingin menandingi ilmu beliau, tuh baca kitab 31.200 jam. Kira-kira itu sama dengan 3 tahun non stop, tanpa makan, minum, mandi, tidur, dan lainnya, cuman baca buku aja. Bisa nggak ya? Jawaban kita paling “Wallahu a’lam” hehe..

Itu baru di LIPIA ya, emang setelah dari sana nggak baca lagi? Beliau tetap saja baca sampai sekarang, nggak bosen-bosen. Syaikhuna Farid حفظه الله jika beliau sudah masuk pesawat, yang beliau buka ya buku, kalo orang pada umumnya kan cuma “bengong”, paling ya ngobrol. Kami dengar bahwa beliau baca Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim saat “terbang”.

Ibrahim putra Syaikh Farid menceritakan kepada kami, “Saat Abi pulang dari Australia, beliau bawa kardus. Langsung aja Umi ngira itu oleh-oleh, baju atau makanan gitu. Saat dibuka, ternyata isinya buku semua.” Hehe..

Syaikhuna Farid حفظه الله adalah orang yang sangat cinta buku, apalagi jika buku itu sangat penting. Beliau sangat tidak rela jika sampai buku hilang. Syaikhuna Farid pernah memberi saya “mandat” untuk menerjemahkan buku Al-Jihad wal Ijtihad, karya Syaikh Abu Qatadah Al-Filasthini. Bahkan sudah ada yang siap nunggu dan menerbitkan. Namun Qadarullah saya belum sempat menerjemahkan. Kalo buku lain Alhamdulillah sudah selesai, buku ini nih yang belum. Saat itu ternyata saya lupa di mana meletakkan buku, akhirnya saya sampaikan, “Syaikhana, saya lupa di mana taruh buku Al-Jihad wal Ijtihad!”

Beliau menimpali, “Loh, jangan sampai hilang, itu buku banyak menyadarkan “orang”. Antum harus cari. Itu buku ruh kita itu. Antum harus dapat!”

Saya sampaikan, “Kalo tidak ketemu, foto copian nggak pa pa ya Syaikh?”

Beliau menjawab, “Nggak, Antum harus dapat” hadeuh….

Saat itu saya agak takut “diomelin” sama Syaikhuna. Ternyata beliau tahu perasaan saya, terus mencampur dengan canda, “Antum kan isteri baru satu, insya Allah masih dapet tuh buku. Kan belum mikirin apa-apa!” Hehe..

Akhirnya saya cari sana-sini, ternyata ada di masjid. Alhamdulillah dapat juga, sesuai dengan bashirah beliau. Kemudian saya kirim pesan kepada Syaikhuna, “Betul Syaikhana, isteri baru satu, Alhamdulillah dapat bukunya.” Hehe.. Yaa begitulah, kecintaan Syaikhuna kepada buku.

Syaikh Farid حفظه الله di mana-mana carinya buku. Suatu ketika Syaikhuna mampir ke Perguruan Tinggi Asy-Syafi’iyah, Jatiwaringin untuk mengerjakan shalat dhuhur berjamaah. Setelah selesai shalat sunnah, beliau langsung ke almari buku, sambil baca-baca, ada yang menyapa beliau, “Assalam alaikum!”

Syaikhuna ; “Wa alaikumus salam!”

Orang itu ; “Bapak dari mana Pak, kok saya baru lihat?”

Syaikhuna ; “Oh, saya dari Kranggan.”

Orang itu ; “Dari Kranggan ya, bapak tahu nggak di Kranggan itu ada Ustadz hebat, namanya Farid Okbah?” hehe…

Syaikhuna ; “Oh gitu ya Pak, masya Allah..”

Orang itu ; “Kalo bapak aslinya dari mana?”

Syaikhuna ; “Saya asli Bangil.

Orang itu ; “Asli Bangil ya, Ustadz Farid Okbah itu juga asli Bangil lho. Ustadz Farid itu juga punya jenggot kayak bapak, tapi lebih panjang gitu..”

Syaikhuna ; “Bapak pernah ketemu Ustadz Farid?”

Orang itu ; “Belum sih..”

Syaikhuna ; “Terus bapak kok bisa tahu?”

Orang itu ; “Ya saya cuman lihat-lihat aja di Youtube!” hehe…

Saat itu Syaikh Farid langsung pamit dan tidak mau meneruskan obrolan. Orang itu sama sekali tidak tahu kalo lawan bicaranya adalah sosok Ustadz yang ia kagumi. Masya Allah, ini lah Syaikhuna, seorang alim yang tawadhu’ luar biasa. Semakin tinggi ilmu sorang Alim, semakin tawadhu’ pula.

Mungkin sekian dulu cerita saya, semoga yang belum mengenal Syaikhuna Farid bisa semakin kenal. Walhamdulillah..

Muizz Abu Turob

Islamic Center Al-Islam Bekasi, 28-11-2017