Kapan Suami Boleh Marah Kepada Isteri?


KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Rasulullah Shallallahu alihi wa Sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
Wanita mana pun yang meninggal dunia dan suaminya dalam kondisi ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi, no. 1854. Didhaifkan Syaikh Al-Albani)
Kerelaan suami itu menjadi perhatian penting bagi para isteri, supaya ia tidak menyakiti hati dan perasaan suami. Maka hendaknya isteri menumbuhkan perhatian dan daya tarik hingga tidak ada alasan suami marah kepadanya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam saat melihat isterinya membuat pelanggaran kepada Allah, saat itulah beliau marah. Demikian pula para suami harus mencontoh beliau. Artinya; apabila suami melihat isterinya melanggar hak-hak Allah dan ketentuan agama Allah, maka saat itu suami harus marah.
Sebagai contoh tatkala Aisyah Radhiyallahu anhamenyinggung Shafiyyah sebagai madunya, saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam datang, Aisyah mengatakan “Untuk apa datang dari orang pendek?” maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam menegur, “Wahai Aisyah, jagalah ucapanmu! Sungguh ucapanmu jika diletakkan di laut, niscaya akan menjadi tawar!”
Tatkala isterinya melakukan kesalahan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam langsung menegurnya dan meluruskannya. Mulai saat itu Aisyah tidak pernah melakukan hal yang sama terhadap madu-madu lainnya.
Namun jika kesalahan itu muncul dari tabiat sebagai wanita seperti cemburu, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam tidak marah. Sebagai contoh saat salah seorang isteri beliau mengirimkan makanan melalui Anas bin Malik, yang saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam di rumah Aisyah. Saat itu Aisyah langsung bertanya, “Dari mana ini?” Anas menjawab, “Dari Zainab.” Maka tatkala itu Aisyah melepaskan piring itu, dan akhirnya pecah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam hanya menanggapi, “Ibu kalian sedang cemburu!”
Maka dari itu para bapak harus paham bagaimana tabiat para ibu