Menikah Itu Tuntutan

 

Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله

Mengapa seseorang perlu menikah?
Pertama, Karena tuntutan naluri.
Karena naluri manusia butuh kepada 3 hal; butuh agama, butuh hidup (makan, minum, tidur, dan lainnya), dan butuh pasangan.
Dan menikah sendiri adalah fitrah, sebagaimana hadits,
« مَنْ أَحَبَّ فِطْرَتِى فَلْيَسْتَنَّ بِسُنَّتِى وَمِنْ سُنَّتِى النِّكَاحُ »
Siapa yang mencintai fitrahku, hendaknya ia menjalankan sunnahku, dan di antara sunnahku adalah menikah.”
(HR. Baihaqi dalam as-Sunan, no. 13833)
Oleh karena itu cara yang terhormat, bernilai, dan mulia adalah dengan menikah.
Saat saya kuliah di Australia pernah didekati oleh wanita yang begitu cantik dari Amerika Latin, lalu ia berkata, “Farid, aku ingin kumpul kebo dengan kamu.” Astaghfirullah, dia tidak tahu kalo kita Ustadz. Saya jawab, “I’m Sorry, I got married (Maaf, saya sudah menikah)!”  
Bahkan saya menemukan mereka (orang-orang Barat) sudah memiliki banyak anak, namun belum menikah. Mengapa? Sebab mereka memiliki slogan, “Married is just a papper (Menikah itu hanya selembar kertas)”
Apakah seperti itu dalam Islam? Tidak. Menikah dalam Islam itu mulia.
Kedua, Tuntutan Agama
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Tujuan menikah bukan hanya untuk melampiaskan hawa nafsu, namun untuk mencapai 3 hal; sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketentraman lah yang akan kita raih. Saya yakin kita dapat merasakan antara sebelum dan setelah menikah, apa yang dirasakan?
Ada sesuatu yang belum lengkap jika belum menikah, perasaan yang penuh kegelisahan dan kegundahan, seolah hidupnya siang terus-menerus tiada malam. Bagaimana seseorang akan menikmati hidup jika hanya menjalani siang tanpa malam?
Karena itulah Allah menyebutkan,
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Mereka (isteri-isteri) itu pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Oleh karenanya, seseorang jika belum menikah seolah dia tidak berpakaian.
Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam,
مَنْ رَزَقَهُ اللَّهُ امْرَأَةً صَالِحَةً ، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي.

 Siapa yang Allah berikan rizki berupa wanita shalihah, maka Allah telah menolongnya untuk setengah agamanya, maka hendaknya ia bertakwa pada setengah yang kedua.”

(Ath-Thabrani dalam al-Ausath(I/161/3); Al-Hakim (II/161), dan mengatakan bahwa hadits ini Shahih, disepakati pula oleh adz-Dzahabi)
Dahulu sebelum menikah jika sepulang kerja kita kemana? Mungkin di kantor berlama-lama, baca buku, ngobrol, mampir ke rumah teman, dan lainnya. Adapun setelah menikah kemana? Terlebih pengantin baru. Pasti ingin cepat pulang bertemu isteri.
Ternyata sebagian orang ingin cepat pulang hanya saat pengantin baru. Itu adalah kerugian yang besar. Jangan sampai Anda menjadikan rumah Anda tempat yang membuat Anda tidak betah.
Wahai para ibu, siapkanlah rumah supaya suami merasakan nikmat berada di rumah.
Wahai para bapak, jika Anda memiliki masalah di luar rumah, jangan dibawa ke rumah! Saya praktekan betul, jika di rumah saya tidak pernah serius, jika di rumah saya buat happy, jika di rumah saya buat seolah tidak memiliki masalah, hingga isteri saya mengatakan, “Aku menikah denganmu selama 25 tahun tidak pernah melihatmu sedih.” Saya jawab, “Emang batu apa, nggak pernah sedih!”
Kita sudah tegang di kantor, di jalan, dan di luar rumah, lalu di rumah kembali tegang? Untuk apa? Nikmatilah hidup di rumahmu.
Wahai para ibu, jadikanlah rumahmu surgamu, buatlah para suami betah di rumah, sehingga jika telah selesai urusannya ia akan segera pulang ke rumah, kemudian ia nikmati rumahnya. Inilah yang sebenarnya rumah tangga bahagia.

Demikianlah, semoga kita dapat menciptakan keluarga yang harmonis. Aamin