Sekelumit Akhlak Nabi Dalam Rumah Tangga


Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Aisyah Radhiyallahu anha menyampaikan, “Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam tidak membeda-bedakan isterinya baik dalam pemberian maupun waktunya.”
Kadang Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dalam sehari mengunjungi seluruh isterinya, lalu berbincang-bincang bersama mereka dengan baik, meskipun tidak bercampur, kecuali pada hari isterinya itu mendapatkan giliran.
 Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam adalah pribadi yang adil, baik dalam pergaulan, pemberian, perhatian, dan kasih sayang beliau. Para isteri beliau pun menyampaikan bahwa rumah tangga mereka penuh dengan rasa damai.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam membagi harinya menjadi 3 bagian; sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga untuk dirinya. Beliau bukanlah orang yang lalai terhadap Allah Ta’alameskipun beliau sibuk mengurusi keluarga yang sedemikian besar. Beliau juga mendidik mereka untuk taat beribadah, taat suami, dan taat dalam tugas-tugas agama yang lain.
Di sisi lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam adalah suami yang menyenangkan. Inilah yang dinyatakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Demi Allah, aku pernah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallamdi pintu kamarku, sedangkan saat itu di dalam masjid ada beberapa orang Habsy yang sedang bermain tombak, beliau pun lalu menutupiku dengan selendangnya agar aku tidak terlihat orang banyak, namun aku dapat melihat permainan mereka. Aku sandarkan wajahku di antara telinga dan bahu beliau dengan menempel di pipi beliau. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah engkau sudah puas?” Aku menjawab, “Belum”. Dan aku masih melihat permainan itu hingga aku puas.”
Dalam banyak riwayat juga disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam tidak suka menganggu isterinya jika mereka sedang tidur. Maka terkadang beliau ketika meninggalkan tempat tidurnya dengan penuh hati-hati supaya tidak mengganggu isterinya. Sehingga saat beliau hendak ke kamar, atau ibadah, atau lainnya beliau tidak mengeluarkan suara.
Inipun juga dipraktekkan oleh Ummu Sulaim. Jika ia sudah dekat dengan Abu Thalhah, ia lepaskan seluruh gelangnya, karena khawatir suaminya bangun.
Ummu Sulaim pernah ditanya oleh suaminya (Abu Thalhah), “Mengapa aku tidak melihat gelang yang ada di tanganmu?” Jawabnya, “Sungguh aku lepaskan semua itu, karena aku takut mengganngu ketenangan tidurmu!” Abu Thalhah berkata, “Sungguh ucapan itu membuatku semakin sayang kepadanya, dan demi Allah seumur hidupnya isteriku tidak pernah menyakiti hatiku!”