Wahai Muslimah, Sambutlah Ia Dengan Penuh Kehangatan

Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Tanda wanita shalihah itu saat dipandang wajahnya menyenangkan, bukan menyebalkan.
Wahai ibu, jika suami sedih saat melihat wajah isterinya, maka itu musibah besar, itu penderitaan yang luar biasa.
Adapun masalah cantik, cantik itu relative, yang lebih penting adalah cantik perbuatannya, bukan sekedar cantik muka.
Jangan sampai suami pulang, si isteri memasang wajah cemberut terus. Tiada nikmat si suami jika menghadapi seperti itu saat pulang.
Demikianlah wanita shalihah, wajah yang menyenangkan, menyambut suami penuh harapan, menservise dengan baik.
Diriwayatkan dari Atha’, dia berkata,
“Apabila Abu Muslim al-Khaulani pulang ke rumahnya dari masjid, dia bertakbir di depan pintu rumahnya, lalu istrinya pun bertakbir. Jika dia berada di halaman rumahnya ia bertakbir pula, maka istrinya pun menjawab takbirnya.”
Pada suatu malam dia berpergian, kemudian setibanya di rumah ia bertakbir, namun tidak seorang pun menjawab. Biasanya apabila ia masuk ke rumah, istrinya segera mengambilkan sorban dan sandal kemudian menghidangkan makanan untuknya. 
Setelah ia masuk rumah, ternyata ruangan gelap, tidak ada lampu di dalamnya. Sementara ia duduk termenung di dalam rumah, menundukkan kepala sambil memainkan sebatang kayu, lalu Abu Muslim bertanya, ‘Ada apa denganmu?’
Istrinya menjawab, ‘Engkau memiliki kedudukan di sisi Mu’awiyah dan kita tidak memiliki pembantu, kalau saja engkau mau minta pembantu kepadanya, tentu beliau akan membantu kita dan pasti memberi.’
Abu Muslim menimpali, ‘Ya Allah, siapa saja yang telah merusak akhlak istriku, maka butakanlah matanya.’
Sebelum itu, ada seorang wanita mendatangi istri Abu Muslim, ia sempat berkata, ‘Suamimu mempunyai posisi menguntungkan di mata Mu’awiyah, alangkah bahagianya kamu sekiranya kamu berbicara kepada suamimu agar dia meminta seorang pembantu kepada Mu’awiyah, pasti ia akan memenuhi permintaanmu.’
Ketika wanita penghasut tadi sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba ia tidak bisa melihat. Ia bertanya, ‘Mengapa lampu kalian padam?’ Orang-orang menjawab, ‘Tidak!’ Maka sadarlah ia akan dosanya.
Kemudian ia menemui Abu Muslim sambil menangis, ia mohon agar Abu Muslim berkenan untuk berdoa kepada Allah demi kesembuhan matanya. Abu Muslim pun merasa kasihan kepadanya, lalu beliau mendoakan untuk kesembuhannya dan Allah mengembalikan penglihatannya.” (Al-Hilyah, 2/130)