Kisah Muallaf Yang Buta

Oleh: KH. Farid Ahad Okbah. MA

Kita semua memiliki pengalaman yang buruk, yang maksiat, yang menzalimi orang, mungkin kita memiliki macam pengalaman lainnya. Sebab kita bukanlah Nabi, sehingga sudah menjadi keniscayaan kita berbuat salah. Namun, selama kita kembali kepada Allah dan bertaubat, maka kita tidak perlu takut lagi.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
إِنَّ الإِسْلاَمَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ
Sesungguhnya Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya (saat masih kafir).”  (HR. Ahmad, no. 17846. Dihasankan oleh Syaikh Syuaib al-Arnauth)
Suatu ketika ada orang Cina menelpon saya saat saya siaran di radio Dakta, ia menyampaikan, “Pak Ustadz, saya orang Cina, tadinya saya bejat; judi, minum, main perempuan, semuanya. Lalu saya masuk Islam supaya benar. Setelah masuk Islam, ternyata saya dibawa orang-orang Islam ke arah yang tidak benar. Saya diajak kembali untuk berjudi, main perempuan, dan lainnya.
Pak Ustadz, suatu ketika saya kalah judi besar-besaran, sehingga saya tidak memiliki apa-apa. Saya pun sedih. Saya masuk Islam supaya benar, ternyata diajak tidak benar pula oleh orang-orang Islam.
Akhirnya saya menengadahkan tangan kepada Allah; “Ya Allah, jika memang keadaanku ini hanya seperti ini, saya ingin benar namun tidak benar, lebih baik Engkau cabut mataku ya Allah.”
Bapak itu melanjutkan kisahnya, “Ustadz, langsung ketika itu juga mata saya buta. Sekarang saya telpon Ustadz, dan saat ini saya masih buta.”
Oleh karenanya, jangan main-main dengan Allah.
Ia lalu meminta nasihat dari saya, dan saya nasihati, namun saya tidak tahu bagaimana perkembangannya.