Kisah Suami Tidak Jadi Poligami

Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA
Teman saya pernah poligami dan menikah dengan isteri kedua, oleh mertuanya dikontrakkan sebuah rumah. Sebelum menyentuh isteri yang kedua, ia sempatkan diri untuk pulang ke rumah isteri pertama, seraya ia sampaikan, “Isteriku, Alhamdulillah Abi sudah menikah lagi, tolong siapkan pakaian-pakaian, Abi mau ke isteri kedua!”
Apabila itu terjadi pada ibu-ibu sekalian, apa yang terjadi? Petir di siang bolong.
Saya kira jika para ibu diuji dengan seperti ini, belum tentu berhasil. Seakan sang suami kurang menjaga perasaan isteri pertama, namun bagaimana sikap si isteri?
Dengan tenang si isteri menjawab, “Alhamdulillah, jika niat Abi benar semoga Allah mudahkan. Jika niat tidak benar, luruskan niat, jangan sampai berbuat zalim, karena tanggung jawab Abi bertambah.”
Demikianlah jawaban bijak sang isteri, meskipun ia ucapkan dengan nangis. Biasa, demikianlah perempuan. Sebab senjata perempuan itu nangis. Sambil nangis ia rapikan baju dan menasihati, sang suami mendengar dengan seksama hingga ia tak tega.
Jika isteri langsung menentang, bisa jadi si suami tambah nikah lagi.
Demikianlah wanita shalihah, ia jawab dengan lembut dan baik disertai tangisan, lalu berangkatlah sang suami. Si suami benar-benar berangkat dari kediaman isteri pertama. Diucapkan salam olehnya, “Assalamu alaikum!”, sang isteri menjawab, “Wa alaikumus salam.” Sambil dicium tangan suaminya.
Sang suami pun berangkat, namun sepanjang perjalanan menuju isteri kedua ia menangis tersedu-sedu tiada henti. Padahal ia adalah pengantin baru. Saat tiba di kediaman isteri muda, ia sama sekali tidak semangat sebagai pengantin baru.
Qadarullah, isteri kedua sedang menstruasi. Berlalu sehari, dua hari, ia menunggu tanpa menyentuh isteri barunya. Di sisi lain, ia selalu teringat isteri pertama, ia teringat nasihatnya, nangisnya, hingga itu semua menggelayuti pikirannya.
Kemudian tiba lah hari ketiga, ia berkata kepada isteri mudanya, “Sudahlah, kita tidak jadi menikah, aku antarkan kamu ke rumah tuamu masih utuh, masih perawan.”
Akhirnya ia tidak jadi poligami.
Namun ingat, jarang suami yang seperti ini 🙂