Bagaimana Cara Melipat Gandakan Amal?

 
 
Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله

 

Orang yang cerdas akan senantiasa berusaha mencari jalan agar pahala amalnya berlipat ganda, sebagaimana pengusaha melipatgandakan asetnya. Kebanyakan kita lebih berfikir bagaimana melipatgandakan asetnya, sekarang kita harus mencari cara supaya pahala amal saleh kita berlipat ganda.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali[1]menyebutkan bahwa pahala amal dapat berlipat ganda karena tiga hal;

Pertama, Faktor tempat.

Sebaik-baik tempat di dunia ini adalah masjid, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam,
 

خَيْرُ الْبِقَاعِ مَسَاجِدُهَا       

Sebaik-baik tempat (di bumi) adalah masjidnya.”[2]

Masjid adalah tempat yang terbaik. Oleh karenanya, kita tidak boleh jauh-jauh dari masjid. Dan masjid yang paling utama adalah Masjidil Haram, karena Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
        
Shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali jika dibandingkan masjid yang lain.”[3]
Karena itulah mengapa umat Islam seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Makkah? Karena di sana ada kemuliaan tempat. Di sana terdapat Ka’bah yang dikelilingi kaum muslimin saat thawaf, di mana tiada tempat lain yang serupa dengannya. Karena itulah, kemuliaan ada di masjidil haram.

Beruntunglah siapa yang dimudahkan oleh Allah untuk mencapai Masjidil Haram, kemudian beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala di sana. 

Jika kita mampu, hendaknya kita mengunjungi pula kota Madinah. Karena shalat di Masjid Nabawi bernilai seribu kali lipat jika dibanding masjid lainnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, 

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
Shalat di masjidku ini (Nabawi) seribu kali lebih baik daripada masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”[4]

Jika masih ada rizki di tangan Anda, maka berkunjunglah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Karena shalat di dalamnya dilipatgandakan pahalanya lima ratus kali lipat. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

وَفِي مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَمْسُمِائَةِ صَلَاةٍ
Dan di Masjid Baitul Maqdis lima ratus kali shalat (melebihi masjid lainnya).[5]

Beruntunglah mereka yang Allah muliakan untuk dapat mengunjungi ketiga masjid ini. Oleh karenanya, tidak boleh menjadikan ziyarah sebagai bentuk ibadah kecuali ke tiga masjid di atas. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى وَمَسْجِدِي هَذَا
       
Tidak boleh mengadakan perjalanan (yang diniatkan ibadah) kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan masjidku ini (Nabawi).”[6]

Dari sini tidak boleh mempersiapkan diri untuk ziyarah ke kuburan-kuburan, dan meniatkannya sebagai ibadah. Begitu pula dengan tempat-tempat lain yang tidak ada keutamaan tertentu berdasarkan Alquran dan as-Sunnah.

Apabila tidak memungkinkan kita berkunjung ke tiga masjid di atas, maka hendaknya kita ramaikan masjid-masjid lain. Jadikanlah masjid-masjid itu sebagai tempat untuk melipatgandakan amal. Karena shalat akan dilipatgandakan 27 kali lipat. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
    
Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian 27 kali derajat.”[7]
Ketika mendapati orang yang meninggalkan shalat jamaah, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu mengingatkan,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ
“Siapa yang kelak ingin bertemu dengan Allah dalam kondisi muslim, hendaknya ia menjaga shalat sesuai tempat diserukannya (masjid). Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan untuk Nabi kalian ` jalan-jalan hidayah, dan shalat berjamaah termasuk jalan hidayah. Apabila kalian shalat di rumah seperti orang ini (orang yang di sampingnya), berarti kalian telah meninggalkan sunah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.”[8]
Jika setiap orang memiliki pendapat untuk shalat di rumah, tentu masjid akan kosong dan sepi pengunjung. Sedangkan masjid adalah tempat yang harus diramaikan. Karena itulah Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَة
Wahai manusia! Shalatlah kalian di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah di rumah kecuali shalat fardhu.”[9]

Hendaklah kaum muslimin meramaikan masjid, karena di antara sifat para shahabat adalah Imaratul masajid (memakmurkan masjid). Di manapun mereka berada, mereka memakmurkan masjid. Ini lah yang perlu kita bangun.

Kedua, Faktor Waktu

Di antaranya adalah bulan Ramadhan, yang hadir hanya sebulan dalam hitungan setahun. Begitu pula sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam,
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي هَذِهِ قَالُوا ، وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ ، وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ 
Tidak ada hari-hari untuk beramal shalih di dalamnya yang lebih Allah cintai dari pada sepuluh hari ini (Dzulhijjah).” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad?” beliau menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu ia pulang tanpa membawa apa-apa darinya.”[10]

Ada pula waktu-waktu lain yang Allah jadikan untuk kita untuk melipatgandakan amal, sebagaimana diajarkan Rasulullah ` kepada kita, di antaranya adalah Asyhurul Hurum(bulan-bulan suci).[11]

            
Begitu pula dengan hari Jum’at yang penuh berkah. Karena hari Jum’at memiliki banyak keutamaan. Karenanya, hendaknya seorang muslim meningkatkan amal saleh padanya.
           
Begitu pula dengan waktu malam daripada waktu siang. Karena itulah dianjurkan untuk shalat tahajjud padanya. Karena pada waktu malam Allah Ta’ala turun ke langit dunia untuk memberikan apa yang diminta oleh hamba-hamba-Nya.
           
Mengapa kita perlu berusaha untuk melipatgandakan amal? Karena umur kita begitu singkat. Kita pun tidak mengetahui sampai kapan tetap tinggal di dunia ini. Karena ituah kita perlu memaksimalkan segala hal yang dapat melipatgandakan amal.

Ketiga, Faktor Keutamaan Amal

Tidak sedikit amal-amal yang diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallamkepada kita, yang amal itu memiliki pelipatgandaan pahala. Di antaranya adalah keutamaan doa. Suatu ketika Abu Bakar ingin menemui Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, tatkala itu Aisyah xsedang shalat dengan doa yang panjang. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam mengajarinya doa yang mencakup seluruh doa. yakni;
                اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْتَعِيذُكَ مِمَّا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ أَمْرٍ أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رَشَدًا 
Ya Allah, aku memohon kepada Engkau segala kebaikan, yang disegerakan maupun yang datang kemudian, yang aku tahu maupun tak kuketahui. Dan aku berlindung kepada Engkau segala keburukan yang disegerakan maupun yang datang kemudian, yang aku tahu maupun tak kuketahui. Aku memohon kepada Engkau surga dan apa saja yang dapat mendekatkannya berupa ucapan dan perbuatan. Aku berlindung kepada Engkau dari neraka dan apa saja yang dapat mendekatkannya berupa ucapan dan perbuatan. Aku memohon kebaikan yang dimohon hamba dan Rasul-Mu Muhammad `. Aku juga berlindung kepada Engkay dari apa yang hamba dan Rasul-Mu Muhammad ` berlindung darinya. Aku memohon kepada Engkau untuk menjadikan ketentuan takdirku baik.”[12]

Ada pula tiga amalan yang pahalanya Allah lipat gandakan tanpa batas;
Pertama, Pahala Memaafkan
Berdasarkan firman Allah Ta’ala,
﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ﴾
Balasan keburukan adalah keburukan serupa, maka siapa yang memaafkan dan memperbaiki niscaya pahala menjadi tanggungan Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Maksud “menjadi tanggungan Allah” adalah Allah lah yang langsung memberi pahala. Dan jika Allah yang memberi pahala, maka pahala akan berlipat ganda tanpa batas.

Kedua, Pahala Sabar

Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
Hanya orang-orang sabarlah yang akan dipenuhi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Orang yang bersabar memiliki pahala tanpa batas, jumlah, dan ukuran tertentu, karena begitu agung keutamaan dan kedudukannya di sisi Allah.[13]

Ketiga, Pahala Puasa

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bahwa Allah l berfirman dalam hadits Qudsi, 
 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى 
Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahala terhadap puasa tersebut. Sebab, orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makannya karena Aku.”[14]
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu memanfaatkan umur untuk mencari pahala Allah tanpa batas. Aamiin.
Tanskrip, Ta’liq, dan Takhrij : Muizz Abu Turob حفظه الله

 


[1] Bughyatul Insan fii Wazhaa-if Ramadhan, hal. 14-15. Al-Maktab al-Islami, Beirut. Cet. I. tahun 1985 M.
[2] Dihasankan al-Albani dalam Takhrij Miskat al-Mashabih, no. 741
[3] HR. Ahmad, no. 15306 & Ibnu Majah, no. 1406. Dishahihkan al-Albani dalam Mukhtashar al-Irwa’, no. 1129
[4] HR. Bukhari, no. 1190 & Muslim, no. 3440
[5] HR. Baihaqi dalam as-Sunan ash-Shughra, no. 1821. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 4211
[6] HR. Bukhari, no. 1995 & Muslim, no. 3325. Ini adalah lafadz Bukhari.
[7] HR. Muslim, no. 1509. Dalam riwayat lain 25 derajat.
[8] HR. Muslim, no. 1520 & an-Nasa’i, no. 849
[9] HR. Bukhari, no. 731
[10] HR. Bukhari, no. 969 dan Tirmidzi, no. 757
[11] Bulan-bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
[12] HR. Ahmad, no. 25108 & Ibnu Majah, no. 3846. Syu’aib al-Arnauth berkata; Shahih.
[13] Tafsir as-Sa’di, hal. 720
[14] HR. Bukhari, no. 1894 dan Muslim, no. 1151. Ini adalah lafadz Muslim.