Bagaimana Supaya Istiqamah Menuntut Ilmu?


Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Seorang mahasiswa STID Muhammad Natsir bertanya;
“Ustadz, kita sebagai penuntut ilmu, ada kalanya futur (semangat melemah). Lalu bagaimana supaya menuntut tetap istiqamah, tidak terlalu berlebihan, namun juga tidak terlalu malas?”
KH. Farid Okbah menjawab;
Allah Ta’ala berfirman;
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam juga mengajarkan doa kepada kita;
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دَيْنِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu.”[1]
Allah lah yang menggerakkan qalbu kita. Mengapa hati disebut qalbu, karena ia selalu berbolak-balik. Sehingga iman itu naik dan turun berdasarkan QS. Al-Anfal: 2.
Mengapa terjadi futur? Tidak lain ini karena kemaksiatan. Mengapa semangat meningkat? Itu terjadi karena ketaatan. Oleh karenanya Imam Ahmad bin Hanbal mensyaratkan orang-orang yang hendak menuntut ilmu dari beliau harus shalat tahajjud. Sehingga apabila ada yang hendak menuntut ilmu dari beliau, beliau akan uji terlebih dahulu, yaitu dengan menginap di rumah Imam Ahmad. Beliau akan sediakan air untuk calon murid itu, apabila airnya berkurang maka ia akan diterima sebagai murid, dan apabila air masih utuh ia akan disuruh pulang oleh beliau. Sebab air tersebut tidak dipakai untuk melaksanakan shalat tahajjud.[2]
Jika seseorang hedak menuntut ilmu, namun ia tidak bangun untuk tahajjud, menurut Imam Ahmad ia tidak pantas untuk menuntut ilmu. Sebab ketaatan itu sangat berpengaruh terhadap kecerdasan, semangat, dan kesalehan seseorang saat ia memperoleh ilmu.
Maka dari itu Imam asy-Syafii sebagai seorang Ulama yang telah hafal Al-Qur’an sejak umur 9 tahun, dan saat umur 11 tahun telah menghafal ribuan hadits. Bahkan sebelum bertemu Imam Malik, beliau sudah hafal al-Muwaththa’ terlebih dahulu. Sulit dicari tandingan seperti Imam asy-Syafii. Kendati demikian, beliau tetap mengeluhkan kepada gurunya;
شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يُهدى لعاصي
“Aku mengeluhkan buruknya hafalanku kepada Waki’ maka beliau mengarahkanku supaya meniggalkan kemaksiatan. Ia memberitahuku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak Dia berikan kepada ahli maksiat.”[3]
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
Setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lemahnya. Siapa yang masa lemahnya menuju sunnahku, maka ia telah mendapat petunjuk. Dan siapa yang masa lemahnya kepada selain itu, maka ia telah binasa.”[4]
Istiqamah itu adalah kita menetapi kebenaran tanpa terjadi pergeseran sehingga terjadi penurunan atau ketidakseimbangan.
Ada beberapa versi tafsir istiqamah menurut para shahabat, di antaranya;
1.       Istiqamah adalah ikhlas
2.       Istiqamah adalah tidak berbuat syirik
3.       Istiqamah adalah keseimbangan antara qalbu, lisan, dan perbuatan yang diarahkan untuk taat kepada Allah.
Untuk itu semua memang dibutuhkan perjuangan, kesungguhan, dan kesadaran. Ilmu lah yang akan menuntun untuk mencapai tingkatan yang lebih baik.
Tanskrip, Ta’liq, dan Takhrij: Muizz Abu Turob حفظه الله

 


[1]HR. Tirmidzi, no. 2140 & an-Nasa’i, no. 7690. Dishahihkan Syaikh al-Albani.
[2] Dahulu Imam Ahmad jika melihat penuntut ilmu tidak bangun malam, maka beliau enggan untuk mengajarinya. Suatu malam Abu ‘Ishmah menginap di rumahnya. Sang Imam menyediakan air wudhu untuknya, lalu sebelum dikumandangkan adzan subuh Imam Ahmad mendapatinya masih dalam keadaan tidur, airnya pun masih seperti sedia kala. Lalu beliau membangunkannya.
Imam Ahmad bertanya, “Untuk apa engkau kesini, wahai Abu ‘Ishmah?”
Ia menjawab, “Untuk mencari hadits.”
Sang Imam mengatakan, “Bagaimana mungkin engkau mencari hadits, sedangkan malam hari engkau tidak tahajjud. Pulanglah ke tempat asalmu.”  (Munthalaqat Thalib al-‘Ilmi, Muhammad Husain Ya’qub, hal.81)
[3]Diwan asy-Syafii, hal. 54. Cet. III, Maktabah al-Ma’rifah tahun 1392 H.
[4]Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, no. 51. Dishahihkan Syaikh al-Albani Shahih al-Jami’, no. 2152