Jangan Sibuk Dengan Harta dan Anak


 
Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA
           
 Allah Ta’ala telah berfirman,
﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
Ingatlah hari di mana tak berguna harta dan anak, melainkan siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Pembaca yang budiman, pada dasarnya kita adalah penduduk surga, namun karena pelanggaran yang dilakukan oleh bapak kita Adam dan ibu kita Hawa, maka keduanya diturunkan ke dunia ini sebagai ujian bagi kita semua supaya kita kembali ke surga tempat kita semula. Oleh karena itu, jangan sampai kita lengah sehingga tidak kembali lagi ke surga.
Kehidupan dunia ini memiliki waktu terbatas, maka harus kita optimalkan sebagai bekal untuk kembali ke tempat semula. Jangan sampai kita dipalingkan oleh dua hal yang paling banyak membuat manusia lalai, yaitu; usaha mengumpulkan harta dan memperbanyak anak. Dengan dua hal tersebut manusia menjadi sibuk dan lupa kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Bagaimanapun upaya kita meraih harta, maka harus diperhatikan cara memperolehnya, yaitu dengan cara yang sesuai dengan syar’i. Dengan demikian hartanya akan halal. Setelah mendapatkannya kita juga dituntut untuk mengalokasikannya dengan benar. Jangan sampai kecintaan terhadap harta membuat kita melanggar aturan Allah saat memperolehya. Begitu pula jangan sampai harta yang kita cintai justru digunakan untuk melanggar Allah.
Perhatikanlah, setiap harta yang Anda terima, namun tidak menjadikan Anda semakin dekat kepada Allah, maka harta itu akan berbalik menjadi bala bagi Anda.
Begitu pula menyangkut masalah anak. Masing-masing dari kita menginginkan memiliki anak. Dalam hal keturunan, manusia terbagi menjadi empat macam, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,    
﴿يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ﴾
Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura: 49-50)
Berdasarkan ayat di atas; (1) ada manusia yang hanya memiliki anak perempuan, (2) ada yang hanya memiliki anak laki-laki, (3) ada pula yang memiliki keduanya, (4) dan ada pula yang tidak memiliki anak karena mandul. Sekilas yang paling ringan bebannya adalah yang tidak memiliki anak, namun ternyata tiada satupun yang menginginkan tidak memiliki anak. Oleh karenanya, jika kita dikaruniai anak maka itu adalah amanat dari Allah yang harus kita jaga. Cara menjaganya adalah dengan mendidik mereka supaya taat kepada Allah, mengarahkan mereka untuk mengikuti syariat Allah, supaya lurus jalan hidup mereka.
Apabila kecintaan kepada anak lalu membuat seseorang mencari harta haram seperti korupsi, menipu, riba, dan lainnya, maka orang itu akan merugi di hadapan Allah Ta’ala. Karena ia melanggar Allah hanya lantaran anak-anaknya. Jangan sampai kecintaan kepada anak membuat Anda mengatakan kepada mereka, “Aku adalah ayahmu, aku hidup demi kalian.” Na’udzu billahi min dzalik. Karena kita hidup semata-mata untuk Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’alafirmankan,
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Hidup dan mati kita untuk Allah, bukan untuk anak-anak kita.
Demikianlah sekelumit nasehat untuk kita semua, semoga menjadi tadzkirah bersama. Aamiin
Tanskrip: Muizz Abu Turob حفظه الله