Meraih Lapis-Lapis Kebahagiaan

Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Apabila kita menyimak problematika kaum muslimin hari ini, dimulai dari pribadi hingga struktur peradaban, kita dapati umat Islam mengalami penjajahan dari beberapa aspek, yakni; penjajahan aqidah, fisik, ideologi, atau pun moralitas dengan mengubah paradigma berfikir umat Islam supaya mengikuti jejak kaum Yahudi dan Nasrani.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ.
Kalian akan benar-benar mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sekalipun mereka masuk lubang biawak.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?”[1]
Al Imam Ibnul Qayim v menyebutkan bahwa sumber kesedihan bukan dari akal, badan, kemiskinan dan seterusnya. Kesedihan itu ada di qalbu, maka Al-Qur’an memberikan jalan keluar agar kita tidak merasa hina, yakni; andai ingin kesedihan cepat hilang maka jadilah orang mukmin. 
Sesungguhnya orang-orang kafir berada dalam puncak kesedihan. Selama mereka berpaling dari agama Allah mereka mendapatkan kesedihan luar biasa. Hidup para pembuat dosa dipenuhi kesedihan dan derita, karena orang-orang yang melanggar aturan Allah hidupnya penuh dengan kehinaan.
Orang-orang kafir menghibur diri dengan cara mendirikan Nigth Club agar orang berdatangan lalu mabuk-mabukkan. Mereka dirikan Mall-Mall seperti; Carefour, Giant, dan lainnya. Mereka buat pula wisata kuliner seperti; KFC, McDonal, dan seterusnya.[2]Itu semua hanya bertujuan untuk menghibur diri.
Intinya; sedih dan bahagia tempatnya di qalbu. 
Al-Qur’an mengidentifikasi bahagia dengan tiga istilah; as-Surur, al-Hubur, dan al-Farh, masing-masing disebutkan dua puluh ayat di dalam Al-Qur’an.
Pertama; As-Surur yakni; kebahagiaan dalam qalbu namun tidak terlihat dalam penampilan, seperti; kebahagiaan orang-orang yang beribadah dan para mualaf.
Salman al-Farisi meninggalkan Persia kerena keluarga dan orang tuanya pemuja api (Majusi), demi mencari kebenaran meski harus rela menjadi budak seorang Yahudi. Kendati demikian, ia berada dalam kebahagiaan.
Ummu Sulaim ketika dilamar Abu Talhah, orang kaya lagi baik hati namun masih kafir, maka Ummu Sulaim berkata, “Seorang sepertimu tidak pantas ditolak untuk menjadi suami wahai Abu Talhah! Tetapi saya Muslimah sedang kamu Kafir, andai kamu masuk Islam itu lah mahar untuk saya.” Akhirnya Abu Talhah masuk Islam. [3]
Mengapa demikian? Karena Ummu Sulaim bahagia dengan Islamnya Abu Thalhah, bukan dengan harta atau ketampanannya.
Kedua; Al-Hubur yakni; kebahagiaan dalam hati terpancarkan oleh wajah. Ini lah yang paling banyak dialami oleh Nabi `.
Ketiga; Al-Farh yakni; kebahagiaan yang muncul dari qalbu, wajahnya berserih-serih, seorang yang mendapatkan kebahagiaan penuh.
Al-Farh ini jika kebahagiaannya hingga membuat lupa kepada Allah, maka menjadi negatif. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an disebutkan larangan bahagia berlebihan hingga berujung pada sombong.
Allah Ta’ala berfirman,
﴿لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ﴾
Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash: 76)
Dia sombong dengan rumah, mobil, dan lainnya hingga melampaui batas. Namun jika kebahagiannya membuatnya ingat kepada Allah, ia kaitkan dengan karunia Allah, maka kenikmatan itu akan mencapai puncaknya.
Dr. Aidh al-Qarni memiliki karya berjudul “Perempuan Paling Bahagia di Dunia”, di dalamnya beliau sebutkan sepuluh konsep orang bahagia (menurut orang barat);
Pertama, Sukai perkerjaan yang kamu gemari
Kedua, Perhatikan kesehatanmu
Ketiga, Hidup harus memiliki tujuan[4]
Keempat, Terimalah hidup apa adanya[5]
Kelima, Hiduplah untuk hari ini[6]
Keenam, Jangan sesali apapun yang telah terjadi.
Ketujuh, Perhatikan siapa di bawah kamu.[7]
Kedelapan, Biasakan senyum.[8]
Kesembilan, Berusahalah menyenangkan orang lain.[9]
Kesepuluh, Gunakan kesempatan pertemuan yang mengandung kebahagiaan.[10]
Hidup ini tidak mungkin jauh dari masalah, masalah selalu menyertai, tetapi bagaimana kita mengatur masalah-masalah ini agar dipecahkan secara baik dengan pertolongan Allah l. Kita tidak mungkin mampu memecahkan masalah dengan baik tanpa bergantung kepada Allah.
Jalan terbaik untuk bahagia terdapat di dalam surat An-Nahl ayat 97, yakni konsep kebahagiaan yang dari Al-Qur’an. Konsep kebahagiaan di dunia harus meliputi dunia hingga akhirat.
Tujuan hidup pasti ingin bahagia, tetapi banyak menganggap kebahagiaan datang dari uang atau jabatan. Padahal semakin banyak uang semakin banyak pula beban ataupun semakin tinggi jabatannya semakin tinggi pula bebannya.
Banyak pula yang mengira kebahagiaan didapat dengan melampiaskan sexnya, kemudian dia berzina di mana-mana.
Di dalam buku “Hidup Hanya Sekali Jangan Salah Jalan”, di antaranya disebutkan; berjuta jiwa melalang buana, mencari kebahagiaan di puncak-puncak dunia, membuang harta, merebut tahta, dan berburu wanita, namun kiranya terlupa bila kebahagiaan di dalam dada.
Dan perlu diingat bahwa qalbu ini tidak bahagia jika tidak mengenal Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana qalbu jika tidak digunakan untuk taat kepada Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah `, maka tidak mungkin qalbu menumbuhkan kebahagiaan.
Allah Ta’ala berfirman,
﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Di dalam ayat ini Allah menjelaskan siapa beramal shaleh, bukan hanya angan-angan dan harapan, tetapi bukti dengan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan. Perlu diingat, tidak dikatakan amal shaleh kecuali dengan mencontoh Rasulullah `, serta menegakkannya atas dasar iman, sedang puncak iman adalah keikhlasan.
Ikhlas memiliki tanda sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Jika dia beramal di hadapan orang banyak tidak bertambah amalnya. Andaipun tidak ada orang tidak berkurang amalnya. Jika dipuji tidak bertambah amalnya, dan jika dicela tidak berkurang amalnya.”
Hidup orang ikhlas tidak lagi memperhatikan orang lain, yang diperhatikan hanya ridha Allah. Maka dari itu, tidak semua amal diterima oleh Allah, Allah hanya menerima amal yang dilakukan seutuhnya untuk Allah.
Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ al-Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa orang beramal ada tiga macam;
Pertama, Orang yang beramal ikhlas karena Allah 100%, diterima amalannya oleh Allah.
Kedua, Orang yang beramal karena manusia, hanya untuk membuat orang senang dan pamer, amalan seperti ini ditolak oleh Allah.
Ketiga, Niatnya karena Allah tetapi sekaligus untuk mendapat dunia,[11]yang seperti ini dilihat mana yang lebih dahulu. Jika yag lebih dahulu adalah ibadah, maka amalnya diterima. Namun jika awalnya adalah dunia maka ia tidak mendapat apapun, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ` bahwa; “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.”[12]
Oleh karenanya, kita harus beramal atas dasar iman dan ikhlas tulus hanya untuk Allah l.
Kebahagiaan adalah akibat bukan sebab, sebabnya kita beriman dan beramal shaleh, akibatnya Allah memberi kita hadiah berupa kebahagiaan. Allah menjanjikan kebahagiaan yaitu; “Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Jika seseorang merasa hidup tidak bahagia, pada dasarnya tidak berkaitan dengan uang, jabatan, namun ia harus koreksi Iman dan amal shalehnya. Jika hidupnya penuh dengan derita dan kecemasan, itu artinya ada masalah dengan Iman dan amal shalehnya.
Abu Sa’id al-Khudri z menceritakan,
« دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ذاتَ يَومٍ الْمَسْجِدَ ، فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ – يُقَالُ لَهُ : أَبُو أُمَامَةَ – جَالِسًا فِيْهِ ، فَقَالَ : يَا أَبَا أُمَامَةَ ، مَالِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ ؟ قَالَ : هُمُومٌ لَزِمَتْني ودُيُونٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ ، قَالَ : أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلَامًا إِذَا قُلْتَهُ أذْهَبَ الله عَزَّ وَجَلَّ هَمَّكَ ، وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ ؟ فَقَالَ : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ ، قَالَ : قُلْ – إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ – : اللَّهمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَ الْبُخْلِ ، وَأُعْوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وقَهْرِ الرِّجَالِ ، فَقُلْتُ ذَلِكَ ، فَأَذهَبَ اللهُ همِّي ، وَقَضَى عَنِّي دَيْنْي»
“Suatu hari Rasulullah ` masuk masjid, ternyata ada seorang Anshar bernama Abu Umamah sedang duduk di dalamnya, beliaupun bertanya, ‘Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid selain waktu shalat?’
Dia menjawab, ‘Gundah dan hutang yang melilitku, wahai Rasulullah!’
Beliau bersabda, ‘Maukah aku ajarkan kepadamu suatu bacaaan jika kamu membacanya setiap pagi dan sore, niscaya Allah akan menghilangkan kegundahanmu dan menyelesaikan hutangmu?’
Dia menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah!’
Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah; Allahumma innii a’udzu bika minal hammi wal khazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijal. (Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari gundah dan sedih, dari lemah dan malas, dari sifat pengecut dan bakhil, dan lilitan hutang dan dikuasai orang lain).”
Abu Umamah mengatakan, ‘Maka akupun mengucapkannya, dan Allah hilangkan kegundahan dan selesaikan hutangku.’[13]
Tiada satu masalahpun, meski telah mencapai batasnya, melainkan akan terbuka oleh doa. Oleh karenanya, jika seseorang mendapatkan masalah, harus banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah l.
Ada sejumlah konsep para Ulama untuk membangun qalbu yang bahagia, sebab jika tidak bahagia berarti qalbu itu tidak berfungsi dan jauh dari Allah l.
Ada sepuluh hal yang dapat menghidupkan qalbu, hendaknya senantiasa dipraktekan supaya qalbu kita tidak kosong. Kemudian ada pula sepuluh hal yang dapat merusak qalbu, ini yang harus kita hindari jika ingin mencapai kebahagiaan itu.
Ibrahim Bin Ad-ham menyampaikan ada sepuluh hal yang dapat menghidupkan qalbu;
Pertama, Taatlah selalu kepada Allah.
Kedua, Ikutilah jejak Rasulullah `.
Ketiga, Selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an.[14]
Keempat, Syukuri nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadamu.
Kelima, Kejarlah surga itu.[15]
Keenam, Jauhi segalanya yang menuju ke neraka.
Ketujuh, Ingat mati karena mati datang sewaktu-waktu.
Kedelapan, Jangan lalai dengan godaan Syaitan, tutup semua pintu Syaitan.
Kesembilan, Ambil pelajaran dari orang-orang yang telah meninggal.
Kesepuluh, Lihat aibmu, lihat kelemahanmu, perhatikan dosa-dosamu, jangan kamu lihat orang lain.
Ibnul Qayim v menyebutkan sepuluh hal yang wajib dihindari, yaitu;
Pertama, Ilmu yang tidak melahirkan amal.
Kedua, Amal yang tidak disertai keikhlasan.
Ketiga, Harta yang tidak diinfakkan.
Keempat, Qalbu yang kosong.
Kelima, Badan yang tidak digunakan untuk taat kepada Allah.
Keenam, Mencintai seseorang yang bukan karena Allah.
Ketujuh, Berfikir yang tidak manfaat.
Kedelapan, Waktu yang terbuang sia-sia.
Kesembilan, Berkhidmat kepada ahli maksiat.
Kesepuluh, Takut kepada selain Allah.
Konsep sunnah Rasulullah ` biasa menggunakan istilah Surur atau istilah Sa’adah, di dalam sebuah riwayat disebutkan, 
إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ
Apabila kamu senang dengan perbuatan baikmu, dan sedih dengan perbuatan burukmu, maka kamu seorang mukmin.”[16]
Kemudian istilah Sa’adahadalah kebahagiaan yang tampak secara dzahir. Oleh karenanya, jika Rasulullah ` mendapatkan kebahagiaan maka beliau sujud syukur.
Di dalam hadits disebutkan bahwa tanda kebahagiaan ada empat,
أَرْبَعُ خِصَالٍ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ : أَنْ تَكُونَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً ، وَوَلَدُهُ أَبْرَارًا ، وَخُلَطَاؤُهُ صَالِحِينَ ، وَمَعِيشَتُهُ فِي بَلَدِهِ
Ada empat hal sebagai kebahagiaan seseorang; istrinya shalihah, anak-anaknya berbakti, teman-temannya shalih, dan rizkinya ada di negerinya.”[17]
Dr. Muhammad Arifi menulis satu kitab berjudul “Nikmati Hidupmu”, kami anjurkan kepada pembaca untuk mengkaji buku ini.
Hidup yang sekali ini jangan sampai larut dalam kesedihan.
Kita dapat melihat kasus-kasus orang Barat, yang mereka mencapai kebahagiaan namun menyisakan kesedihan. Mereka ingin memulai hidup bahagia tetapi akhirnya meninggal bunuh diri. Hal ini karena mereka tidak mendapat kebahagiaan yang hakiki.
Pada zaman ini kita juga mendapati prinsip yang rusak. Anak-anak muda sering mengatakan; muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk Surga. Jika hal ini dituruti rusaklah kehidupan manusia.
Demikianlah sekelumit pembahasan bagaimana mencapai kebahagiaan. Semoga bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan kaum muslimin secara umum. Wallahu waliyyut taufik.
Tanskrip, Ta’liq, dan Takhrij: Muizz Abu Turob حفظه الله

 


[1] HR. Bukhari, no. 3456 & Muslim, no. 6952. Ini adalah lafadz Bukhari.
[2] Makanan seperti ini sudah dianggap sampah di negara-negara besar
[3] HR. Nasa’i, no. 3341. Dishahihkan al-Albani dalam Takhrij al-Miskat, no. 3209.
[4] Namun jangan seperti orang kafir yang tujuannya hanya memikirkan uang, rumah, istri, dan kekayaan semata.
[5] Namun jangan seperti orang kafir yang jika stress atau depresi lalu bunuh diri. Maka negara-negara maju paling tinggi angka bunuh dirinya, sedangkan yang paling rendah Saudi Arabia.
[6] Prinsip orang kafir yaitu jangan memikirkan hari yang telah berlalu. Sedangkan orang beriman memiliki prinsip; harus berfikir untuk menyiapkan hari esok.
[7] Andai kita ingin bahagia, maka jangan melihat ke atas, tetapi lihatlah ke bawah supaya kita lebih bersyukur kepada Allah.
[8] Mereka senyum agar menggambarkan si kafir tersebut tidak mempunyai masalah, padahal di dalam dirinya ada 1001 masalah. Kemudian, selain senyum ditambah bergaul dengan orang yang optimis. Sebagaimana Nabi ` mengajarkan agar kita bergaul dengan penjual miyak wangi. Sebab, jika tidak memperoleh minyak wanginya, minimal kita mendapat aroma wanginya.
[9] Seperti memberi makan orang lain, membantu orang miskin, dan lainnya. Maka, bantulah orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan.
[10] Orang-orang kafir biasa mengaitkannya dengan konser-konser musik
[11] Misalnya adalah seorang berhaji sekaligus berdagang, atau mengikuti pengajian sekaligus berdagang.
[12] HR. Bukhari, no. 2529 & Muslim, no. 1907
[13] HR. Abu Dawud, no. 1555
[14] Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Jauh dekatnya engkau dengan Allah dapat diukur dengan jauh dekatnya engkau dengan Al-Qur’an.
[15] Hidup kita untuk mengejar surga, bukan untuk mengejar keuntungan dunia semata.
[16] HR. Ahmad, no. 2220, dishahihkan Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq al-Musnad-nya.
[17] HR. Ibnu Abi ad-Dunya, no. 53. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dhaif al-Jami’, no. 759