Di Antara Keistimewaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam

 

Oleh : KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله

 

Allah Ta’ala berfirman;

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf: 108)

Dalam ayat tersebut terdapat pelajaran:

1.Kata قل , dan didalamnya tidak disebutkan nama Muhammad, berbeda dengan perintah-perintah kepada Nabi-Nabi yang lain, seperti;

[1]“ يا آدم اسكن أنت….”

[2]” يا إبراهيم قد صدقت الرؤيا”

[3]“يا يَحْيَى خذ الكتاب بقوة”

[4]“يَا عيسى ابْنَ مريم أأنت قلت للنَّاسِ اتخذوني”

[5]“يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ”

Hal ini menunjukkan bentuk hormatnya Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dan apabila disebutkan namanya maka shifatnya berita, seperti;

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ[6]

ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله و خاتم النبيين[7]

Adapun jika Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah menggunakan lafadz, يا أيها النبي / يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ/ قل seperti;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ[8]

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ[9]

قُلْ هَذِهِ

Inilah diantara kekhususan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sehingga kita tidak boleh menyebut “Hai Muhammad/ Muhammad berkata” / menyebut Muhammad tanpa shalawat, Sehingga disebutkan dalam hadits;

قَالَ : شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ.

“Jibril berkata, ‘Celakalah seorang hamba ketika namamu disebut di sisinya, dia tidak mau bershalawat untukmu.’ Kemudian aku katakan, ‘Amin’.” (Shahih Al Adabul Mufrad, no.644. Syaikh Al Albani berkata; Shahih Ligharihi)

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Qs. An Nur: 63)

Allah mengalahkan para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Uhud karena melanggar satu perintah saja, lalu bagaimana dengan kita yang banyak melanggar sunnah ini? Mau dimenangkan oleh Allah, dari mana ceritanya? Apabila kita ingin menang, kembalikan umat ini kepada sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kita masih jauh dari sunnah justru yang terjadi adalah menyelisihi sunnah.

____________________________________________

[1] Qs. Al Baqarah: 35

[2] Qs. Ash Shaffat: 104-105

[3] Qs. Maryam:12

[4] QS. Al Maidah: 116

[5] Qs. Hud: 48

[6] Qs. Al Fath: 29

[7] Qs. Al Ahzab: 40

[8] Qs. At Taubah: 73 dan At Tahrim:9

[9] Qs. Al Maidah: 67