Inti Ibadah Puasa

 

 

Alhamdulillah kita kaum muslimin serempak menjalankan ibadah puasa pada Ramadhan kali ini, yakni untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang telah Allah wajibkan bagi kita. Allah l berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Allah l memerintahkan kaum mukminin untuk berpuasa sebagaimana perintah itu disampaikan kepada umat terdahulu, agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Inilah musim kebaikan yang harus kita sambut dengan senang hati dan bersungguh-sungguh agar mendapat kemuliaan takwa, sebagaimana firman Allah, “Agar kamu bertakwa.”

Para Shahabat g menyampaikan kondisi Rasulullah `, mereka mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَحْسَنَ النَّاسِ وَأَجْوَدَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ

Nabi ` adalah manusia yang paling baik, paling dermawan, dan paling pemberani.”[1] Shahabat Abdullah bin Abbas c menambahkan, “Dan semakin dermawan ketika bulan Ramadhan.”

Rasulullah ` bersabda,

وَيُنَادِي مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

(Apabila awal Ramadhan tiba), ada penyeru dari langit menyeru, “Wahai orang yang senang berbuat kebaikan perbanyaklah kebaikan, wahai orang yang senang berbuat buruk hentikanlah keburukan.”[2]

Maksud dari pebanyaklah kebaikan adalah teruskanlah dan bukalah pintu-pintu kebaikan. Karena itulah, Ramadhan adalah karunia besar bagi orang-orang yang beriman. Lalu siapa orang yang beriman itu?

Rasulullah ` telah memberikan definisi ringkas akan orang-orang beriman, dan dengannya beliau menyebutkan ukuran seorang mukmin, sebagaimana disebutkan di dalam hadits;

إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ

Apabila kamu senang dengan perbuatan baikmu, dan sedih dengan perbuatan burukmu, maka kamu adalah mukmin.”[3]

Artinya apabila kamu senang shalat tarawih, mengaji Al-Qur’an, bersedekah, amar ma’ruf nahi munkar, berjihad fii sabilillah, mencari yang halal, dan kamu senang dalam berbagai kebaikan, maka terdapat tanda bahwa dirimu adalah seorang mukmin. Tanda seorang mukmin lainnya adalah ketika kamu terjerumus dalam dosa dan melakukan sesuatu yang terlarang, lalu kamu sedih karenanya serta menyesali, “Mengapa saya melakukan seperti ini dan seperti itu?.”

Sebagai manusia tiada di antara kita yang tak memiliki dosa, mungkin ada yang pernah dengki, berbuat zalim, makan riba, dan berbagai macam dosa yang dilarang oleh Allah, maka bertaubatlah kepada Allah dan sadarilah bahwa anda dalam posisi salah, sehingga anda merasa sedih dengan perbuatan yang terjadi itu. Bukan justru sebaliknya, yaitu menikmati perbuatan itu, sebab sebagian orang yang dahulunya adalah seorang preman atau orang yang tidak baik, lalu ketika sadar dan menjadi orang shalih justru membanggakan berbagai perbuatannya itu, seraya berkata, “Dahulu saya pernah membunuh, meminum minuman keras, dan saya lakukan seperti ini dan seperti itu.” Ini adalah perbuatan yang salah. Janganlah anda membanggakan kemaksiatan yang terjadi pada masa lalu. Justru anda harus bersedih dan menyesali, “Mengapa saya dahulu menjadi preman atau menjadi orang yang tidak baik.”

            Subhanallah, ini lah tanda seorang mukmin.

Hari-hari pada bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan terbaik untuk melipat gandakan amal shalih kita. Karena Allah l berfirman dalam hadits Qudsi,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahala terhadap puasa tersebut. Sebab, orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makannya karena Aku.”[4]

Artinya setiap amal ibadah akan Allah lipat gandakan pahalanya menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali ibadah puasa, sebab Allah l sendiri yang akan memberikan pahalanya. Apabila Allah yang akan memberikan pahalanya secara langsung, maka maknanya adalah pahala tanpa batas. Sebab, orang yang berpuasa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah semata. Tatkala kita mampu makan, minum, dan berhubungan suami istri pada malam hari, lalu ketika menjalankan ibadah puasa dilarang dari semua itu. Allah l telah melarangnya, lalu kita ikuti perintah itu karena Allah.

Rasulullah ` bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

Puasa itu perisai.”[5]

Perisai dari apakah? Imam an-Nawawi v berkata, “Perisai dari hawa nafsu.”[6] Oleh karena itu, apabila kita telah memasuki bulan Ramadhan janganlah kita ditundukkan oleh hawa nafsu. Bahkan sebaliknya, kita lah yang harus menundukkan hawa nafsu itu. Ada beberapa nafsu yang perlu kita kekang pada bulan Ramadhan ini, yaitu; nafsu makan, minum, hubungan suami isteri, tidur, dan nafsu berbicara.

Rasulullah ` bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

Puasa itu bukanlah sekedar menahan makan dan minum. Hanyasanya puasa itu menahan dari perbuatan sia-sia dan yang mengandung dosa.”[7] Sehingga tatkala puasa kita dapat terus meningkatkan kualitas keimanan dan amal shalih kita.

Inti dari puasa adalah al-Imsak (menahan diri). Sebagaimana ucapan Maryam,

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku akan menahan diri dari berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26).

Di dalam ayat di atas Maryam menggunakan kata Shaum yang artinya menahan diri. Ia menahan diri untuk tidak berbicara dengan seorang pun. Menurut hasil penelitian ilmiyah perempuan dalam sehari butuh berbicara 20.000 kata, sedangkan laki-laki membutuhkan 7.000 kata, dan itu semua adalah kebutuhan. Hanya saja, kebutuhan terhadap beribu-ribu kata itu dapat disalurkan dengan banyak membaca Al-Qur’an, terlebih pada bulan Ramadhan, di mana Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Maka hendaknya dicoba, apabila tahun lalu khatam Al-Qur’an sebanyak dua kali, hendaknya tahun ini ditambah menjadi empat kali. Bahkan jika mampu hendaknya setiap hari sepuluh juz, dengan demikian kualitasnya semakin meningkat. Maka dari itu peluang Ramadhan ini jangan sampai kita sia-siakan.

Allah l telah firmankan, “Agar kamu bertakwa.” Artinya adalah agar kalian masuk surga. Sebab, orang-orang yang bertakwa akan Allah sediakan surga sebagai tempat kembalinya. Sebagaimana firman-Nya,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-Imran: 133)

Adapun ciri-ciri orang yang bertakwa dijelaskan pada ayat selanjutnya, yaitu; “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran: 134)

Orang yang bertakwa adalah orang yang rajin berinfak, baik ketika kaya maupun miskin, terlebih pada bulan Ramadhan ini hendaknya kita lebih gemar berinfak. Ciri lainnya adalah menahan amarah, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena itulah, Rasulullah ` bersabda,

فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ ، أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ ، فَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ.

Apabila ada seseorang mencacimu atau berbuat jahil terhadapmu maka katakanlah; aku sedang berpuasa.”[8]

Termasuk ciri orang yang bertakwa adalah mudah memaafkan orang lain. Kita sering disakiti baik dengan ucapan, perbuatan, fitnah, dan banyak lainnya, namun kita tidak membalas. Kita membalas dengan amal shalih di lapangan yang menilai Allah l. Allah l berfirman, “Balaslah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fushshilat: 34)

Hendaknya kita menjadi pribadi yang mudah memaafkan, terlebih kepada sesama muslim. Sebab, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik seperti ini. Oleh karenanya, kesempatan Ramadhan ini kita berusaha untuk menjadi orang yang membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan. Rasulullah ` bersabda,

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ , مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi pintu kebaikan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada yang menjadi pintu keburukan penutup keburukan. Beruntunglah siapa yang Allah jadikan sebagai pintu kebaikan melalui tangannya. Dan celakalah orang yang Allah jadikan pintu keburukan melalui tangannya.”[9]

Bukalah pintu kebaikan dan tutuplah pintu keburukan, ini lah saatnya pada bulan Ramadhan. Karena itulah, Rasulullah ` bersabda,

« إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ».

Apabila Ramadhan tiba pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”[10]

Kita dapat melihat di luar bulan Ramadhan banyak orang yang sulit bangun malam, bahkan waktu adzan subuh pun masih terlelap tidur, dan tidak beranjak ke masjid. Namun pada bulan Ramadhan ini mereka mudah untuk bangun, sebab setan-setan telah dibelenggu. Sementara setan ‘pensiun’ untuk menggoda manusia. Hanya saja, apabila shubuh belum bangun pula, maka ini adalah hawa nafsu, sehingga perlu kita kalahkan dan lawan hawa nafsu tersebut.

Kebiasaan masyarakat kita pada awal Ramadhan masjid penuh dengan jamaah, ketika pertengahan jamaah berkurang menjadi setengah, sedang di akhir Ramadhan mereka sibuk untuk pulang kampung. Perlu kita sadari bahwa kampung kita yang sebenarnya adalah surga, maka akhir Ramadhan justru kesempatan kita untuk fokus beribadah menyiapkan pulang kampung ke surga. Itu lah akhir Ramadhan untuk memaksimalkan amal shalih kita.

Semoga Allah menerima amal shalih kita dan mengumpulkan kita di surga hingga bertemu di pintu ar-Rayyan. Amin.

Diambil dari ceramah Ustadz Farid Okbah pada malam 1 Ramadhan 1436 H, di Islamic Center Al-Islam Bekasi. (Dengan sedikit perubahan)

[1] HR. Bukhari, no. 6033, dari Anas bin Malik z.

[2] HR. Tirmidzi, no. 682, dari Abu Hurairah z. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 759.

[3] HR. Ahmad, no. 2220, dishahihkan Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq al-Musnad-nya.

[4] HR. Bukhari, no. 1894 dan Muslim, no. 1151. Ini adalah lafadz Muslim.

[5] HR. Bukhari, no. 1894 dan Muslim, no. 1151.

[6] Lihat: Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, IV/153.

[7] HR. Hakim dalam al-Mustadrak, no. 1570, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1082.

[8] HR. Hakim dalam al-Mustadrak, no. 1570, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 5376.

[9] HR. Ibnu Majah, no. 237, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 2223.

[10]HR. Muslim, no. 2547.