5 Kriteria Orang Boleh Diambil Ilmunya


Oleh: KH. Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Setiap zaman akan ada orang-orang yang akan berkategori adil mengemban agama ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ
“Setiap generasi ilmu ini akan diemban oleh orang-orang yang adil.” (HR. Baihaqi, no. 3884. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Orang adil menurut ahli hadits memiliki arti;
Pertama, Akidahnya benar.
Kedua, Ibadahnya baik.
Ketiga, Akhlaknya mulia.
Keempat, Tidak terlibat dengan bid’ah  (bukan Khawarij, Murjiah, Syiah, Mu’tazilah, Syiah)
Kelima, Tidak pernah berdusta
Sebisa mungkin kita harus masuk ke dalam kriteria ini. Bahkan dalam masalah kejujuran, mereka sangat memperhatikan. Imam Bukhari mengisahkan bahwa dirinya keluar untuk belajar hadits dari seseorang. Imam Bukhari menemuinya, sementara kuda orang itu lari. Dia memberikan isyarat dengan selendangnya seakan-akan di selendangnya terdapat Sya’ir (gandum yang kasar).
                
 Kuda itu datang menghampirinya, lalu dia memegangnya. Imam Bukhari bertanya kepadanya, “Apakah kamu membawa Sya’ir?” “Tidak. Tetapi, saya mengelabuinya.”
                
 Imam Bukhari lalu berkata, “Saya tidak akan mengambil hadits dari orang yang mengelabui hewan.”
Dulu saat kita masih kecil, kita biasa ambil beras, kita pegang untuk memanggil ayam, namun bukan untuk memberi makan hanya untuk ditangkap. Ini sudah dianggap berbohong.
Jika kita belajar ilmu agama, itu berbeda dengan ilmu lain. Matematika, fisika, kimia, dan lainnya boleh belajar dari orang kafir, fasik, dan semacamnya. Namun untuk agama, harus memenuhi 5 kriteria di atas.
Imam Malik berkata,
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَخُذُوْا دِيْنَكُمْ عَمَّنْ تَثِقُوْنَهُ
“Sesungguhnya ilmu ini agama, maka ambillah agama kalian dari orang yang kalian percayai.”