Apa Itu Spiritual Reading?


 
Oleh: Farid Ahmad Okbah. MA حفظه الله
Apabila kita berbicara tentang spiritual reading, maka kita berbicara bagaimana memenuhi kebutuhan spiritual melalui membaca. Allah Ta’alameurunkan pertama kali wahyu kepada umat Islam melalui lisan Nabi Muhammad `,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Oleh karenanya, membaca adalah pintu tercepat untuk menggali ilmu pengetahuan, siapa yang membaca dialah yang akan menguasai ilmu. Maka dari itu, dengan hikmah-Nya Allah mengutus Nabi Muhammad ` sebagai Nabi yang buta huruf, namun ayat yang pertama justru diperintahkan untuk membaca. Ini menunjukkan bahwa kebodohan terletak pada buta huruf, dan dapat dihapuskan dengan membaca.
Untuk mencapai spiritual reading, tujuan kita membaca ada dua, yakni;
Pertama, Membaca harus karena Allah Ta’ala. Sebab, Allah Ta’alaberfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” 
Banyak orang membaca, namun membaca bukan karena Allah. Niat mereka hanya sebatas hobi, menambah wawasan, menjadi intelektual, dan seterusnya. Ini semua tidak termasuk kategori spiritual reading.
Kedua, Jika telah memperoleh banyak ilmu jangan sombong, harus bersikap tawadhu’, sebab 
semakin banyak buku kita baca semakin banyak pula ilmu yang kita peroleh. 
Menurut penelitian para ilmuwan; jasad kita terdiri dari dua komponen, yaitu soft skill (bagian dalam; jiwa dan hati) dan hard skill (badan jasmani). Hak yang harus dipenuhi dari soft skill ini adalah 80%, dan ini dapat diisi dengan spiritual reading. Sedangkan hard skill menempati posisi 20%. Sedangkan apa yang kita pelajari di lembaga-lembaga menempati posisi 15%. Maka dari itu jangan puas dengan apa yang kita dapati. Kita perlu terus meningkatkan kualitas membaca, menggali, observasi, dan dengan itu semua kita semakin kaya dengan ilmu. 
Hasil penelitian UNESCO terhadap kualitas membaca mahasiswa timur tengah yakni khususnya negeri-negeri Arab, di negara Kuwait mahasiswa setiap hari membaca 1 jam 15 menit, Arab Saudi; 1 jam 30 menit, Mesir; 1 jam 30 menit, Suriah; 1 jam 45 menit, Lebanon; 2 jam 15 menit.
Menurut penelitian; dalam proses belajar selain harus mengfungsikan mata, kita juga perlu banyak mengfungsikan telinga, sangat dianjurkan membaca selama 6 hingga 8 jam sehari. Sebab jika ingin menjadi orang hebat atau orang sukses, mata harus banyak difungsikan untuk membaca sebagaimana telinga difungsikan untuk mendengar.
Membaca buku selama 6 hingga 8 jam adalah hal biasa jika dibandingkan dengan ulama salaf terdahulu. Misalnya; Imam Ibnu Hajar membaca Muwaththa’ Imam Malik yang berjumlah 2 juz di depan seorang ulama sebagai muroja’ah selama 5-6 jam secara berurutan. Beliau juga menuntaskan Shahih Muslim di depan gurunya selama 3 hari.[1]
Imam al-Qasimi juga menyebutkan kualitas beliau membaca setiap hari, beliau membaca Shahih Muslim secara sempurna sanad dan matannya selama 40 hari, lalu Sunan Ibnu Majah selama 21 hari, kemudian Muwaththa’ Imam Malik 19 hari, dan membaca kitab Tahdzibut Tahdzib (karya Ibnu Hajar) dalam waktu 10 hari.[2]
Bahkan di antara ulama ada yang menganggap waktu paling berat adalah waktu makan. Ibnu Aqil al-Hanbali mengatakan, “Waktu yang paling berat bagiku ialah ketika mengunyah makannan”.[3]
Di sana ada dua riwayat kisah yang begitu menakjubkan, yaitu Abul Barakat[4] (kakek Ibnu Taimiyah) dan Ibnul Jauzi, keduanya senang membaca buku saat masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya meminta tolong kepada anaknya agar membacakan buku dari luar kamar mandi. Meski keduanya sedang beraktifitas di dalam kamar mandi namun tetap mendengarkan apa yang dibacakan oleh anaknya.
Imam Ibnu Rajab adalah seorang ulama produktif yang begitu cinta dengan buku. Suatu ketika datanglah istrinya dalam keadaan wangi, bersih, dan cantik. Ia ingin bermanja-manja dengan suami, tetapi Ibnu Rajab tetap fokus membaca buku yang ada di hadapannya, seraya Ibnu Rajab berkata, “Aku belum semangat dengan kamu, aku lebih semangat dengan ilmu”.
Apabila kita memperhatikan perkembangan negara-negara maju. Negara maju memiliki ciri khas yakni; banyaknya masyarakat membaca buku, toko-toko buku banyak dikunjungi, dan perpustakaan ramai dengan pengunjung. Demikianlah tanda-tanda negara telah maju.
Imam al-Ajurri menyebutkan dalam kitab Akhlaqul Ulama bahwa seorang alim mempunyai tiga sifat;
Pertama, Hendaknya menanamkan dalam dirinya; apabila bertemu dengan ulama besar ia harus banyak mendengar dan belajar.
Kedua, Apabila bertemu ulama selevel, ia mengajaknya berdiskusi.
Ketiga, Apabila bertemu dengan Thullabul Ilmi (para penuntut ilmu), maka ia ajarkan ilmu kepadanya.
Kita biasa membaca atau mendengar kajian di majelis-majelis ilmu. Apabila sekedar membaca dan mendengarkan, maka 30 menit berikutnya 50% ilmu kita hilang. Oleh karenanya, cara terbaik supaya tidak lupa yaitu mencatat apa yang kita baca dan dengarkan.
Menurut Imam as-Syafii v
العِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ *** قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَةِ
Ilmu itu binatang buruan dan tulisan itu tali pengikatnya. Maka tali buruanmu dengan ikatan yang kuat.”
Imam Ibnul Jauzi setiap kali berfikir, beliau langsung mencatat idenya. Berlalu sekian lama mencatat, maka jadilah kitab Shaidul Khatir, yaitu sebuah kitab yang berisi himpunan ide dan pemikiran beliau.[5] 
Tidak mungkin seseorang bersungguh-sungguh membaca andai tak memiliki semangat, maka semangat membaca harus senantiasa membara di dalam diri, targetkanlah setiap hari membaca 6 hingga 8 jam. 
Imam asy-Syafi’i tatkala ditanya, “Bagaimana semangat anda mencari ilmu?”, beliau menjawab, “Seperti seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya”.[6]
Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari pernah berkata kepada para muridnya, “Maukah kalian sungguh-sungguh menulis tarikh semenjak Nabi Adam hingga masa kita ini?” Mereka pun bertanya, “Berapa ukurannya?” Dijawabnya, “30.000 ribu lembar.”
Mereka berkata, “Umurmu akan habis terlebih dahulu sebelum menyelesaikan.” Maka dia-pun berkata,” Innaa lillaah, maatatil himam (telah mati semangat itu). Lalu ia meringkasnya hingga berkisar 3000 lembar.
Ia pun menginginkan hal yang sama dalam bidang tafsir, tapi kemudian meringkasnya seperti ukuran tarikh.”[7]
Dikisahkan perjalanan Imam Baqi bin Makhlad al-Andalusi dalam menuntut ilmu, ia rela menyamar menjadi pengemis demi memperoleh hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal.
Ia menuturkan, “Aku keluar mencari tahu rumah Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ada orang yang menunjukkan diriku. Aku mengetuk pintu rumahnya, dia pun keluar dan membuka pintu. Dia melihat seorang laki-laki yang belum dikenalnya.
Aku berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, inilah seorang laki-laki perantau yang negerinya jauh. Ini adalah kedatanganku pertama kali di negeri ini. Aku pencari hadits dan penghimpun sunnah. Aku tidak melakukan perjalanan melainkan bertujuan untuk menemuimu.’
Dia berkata kepadaku, ‘Masuklah lorong itu, dan jangan sampai terlihat oleh seorangpun.’
Dia bertanya kepadaku, ‘Di mana negerimu?’ Aku menjawab, ‘Daerah Maghrib yang jauh.’ Dia bertanya kembali, ‘Afrika?’ Aku menjawab, ‘Lebih jauh lagi, Aku menyeberangi lautan untuk tiba di Afrika, negeriku Andalus.’ Dia berkata, ‘Negerimu benar-benar jauh. Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai daripada membantu orang sepertimu dengan baik, untuk mewujudkan keinginannya. Hanya saja, saat ini aku sedang menghadapi ujian dengan sesuatu yang mungkin kamu telah mendengarnya.’ Aku berkata, ‘Benar, aku telah mendengarnya saat aku berjalan ingin menemuimu dan hampir tiba di sini.’[8]
Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdillah, ini adalah kedatanganku yang pertama kali. Aku orang yang tidak dikenal di kalangan kalian. Jika anda berkenan, aku akan datang setiap hari dengan menyamar sebagai peminta-minta. Di depan pintu, aku akan mengucapkan apa yang sering diucapkan para pengemis. Lalu, anda keluar ke tempat ini. Seandainya anda tidak menyampaikan setiap hari kecuali hanya satu hadits saja, maka hal itu sudah cukup bagiku.’ Dia menjawab, ‘Ya, dengan syarat kamu jangan muncul di halaqah-halaqah, dan tidak pula kepada para ahli hadits.’ Aku menjawab, ‘Aku berjanji.’
Pada hari berikutnya aku mengambil ranting pohon dengan tanganku, kemudian membebat kepalaku dengan kain. Kertas dan tinta aku sembunyikan di balik lengan bajuku. Lalu aku mendatanginya sambil berteriak, ‘Pahala, semoga Allah merahmati kalian!’ Begitulah yang diteriakkan oleh para peminta-minta di sana. Maka, dia keluar dan menutup pintu. Dia menyampaikan dua, tiga hadits atau lebih kepadaku.
Aku terus melakukan hal itu sampai orang yang menimpakan ujian kepadanya telah mati. Setelah itu, kepemimpinan diambil alih oleh orang yang berpegang kepada madzhab Ahlus Sunnah. Maka, Ahmad bin Hanbal kembali muncul, dan namanya naik daun. Dia dihormati di mata manusia, ketokohannya terkenal, orang-orang berduyun-duyun mendatanginya. Dan, dia semakin tahu kesabaranku yang sebenarnya. Jika aku mendatangi halaqahnya, dia melapangkannya untukku dan mendekatkanku kepada dirinya. Dia berkata kepada para ahli hadits, ‘Orang ini berhak menyandang predikat sebagai penuntut ilmu.’ Kemudian ia menceritakan kisahku bersamanya. Dia menyodorkan hadits kepadaku, membacakannya untukku, dan aku membacakannya untuknya.”[9]
Dahulu kami juga mendidik mahasiswa-mahasiswa kami di Islamic Center Al-Islam untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Mereka diwajibkan untuk mengunjungi perpustakaan di berbagai perguruan tinggi. Mereka pun berburu buku atau kitab di lembaga-lembaga tersebut, meski hanya mengendarai sepeda. 
Di kampus LIPIA misalnya, yang terkenal bersepeda berasal dari mahasiswa Al-Islam. Tatkala sepeda rusak di jalan, mereka rela mendorong sampai tiba di Islamic Center. Pada dasarnya inilah yang membuat semangat belajar dan menuntut ilmu.
Semoga sedikit ulasan ini dapat menambah wawasan dan semangat kita untuk terus menggali ilmu. Wallahu waliyyut taufiq.
 Tanskrip, Ta’liq, dan Takhrij: Muizz Abu Turob حفظه الله

 


[1] Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Majduddin al-Fairuz Abadi penulis kitab al-Qamus al-Muhith. (lihat: Qawa’id at-Tahdits, al-Qasimi, hal. 226). Ed.T
[2] Qawa’id at-Tahdits, al-Qasimi, hal. 226
[3] Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, II/142-162
[4] Ibid, II/249-252
[5] Syaikh Dr. Aidh al-Qarni dalam bukunya Hakadza Hadatsana az-Zaman mengomentari buku ini, “Karya terbaik yang berhasil dia telurkan menurut saya adalah Shaidul Khathir.” Ed.T
[6] Thabaqat asy-Syafi’iyyah, al-Baihaqi, II/143-144
[7] Lihat: Siyar A’lam an- Nubala’, 11/169.
[8] Saat itu Imam Ahmad sedang diboikot oleh Khalifah al-Watsiq billah untuk tidak boleh ke masjid dan mengajarkan hadits. Ed.T
[9] Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajim ashhabi al-Imam Ahmad, al-Ulaimi, I/177