Kisah Abdurrahman bin Auf

Imam Adz-Dzahabi mengatakan di dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’: Sungguh Abdurrahman bin ’Auf telah mengambil manfaat dari apa yang dia dengar (hadits Nabi ) sampai dia menshadaqahkan hartanya dalam jumlah yang sangat banyak dan ~atas nikmat Allah dia telah membebaskan kedua kakinya dan menjadikan dirinya di~ antara dedaunan Surga Firdaus.

Abdurrahman bin ’Auf menemui Ummu Salamah lalu berkata: ”Wahai Ummul Mukminin aku takut diriku menjadi binasa, karena aku termasuk orang Quraisy yang paling banyak hartanya, aku menjual tanahku seharga 4.000 dinar.

 

Maka Ummu Salamah berkata: ”Wahai anakku, shadaqahkanlah hartamu itu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya diantam sahabatku ada yang tidak melihatku setelah sepeninggalku nantidi surga Surga.”

 

     Maka aku datang kepada Umar bin Khattab kemudian menceritakan kepadanya, dan Abdurrahman mendatangi Ummu Salamah dan berkata: ”Demi Allah, saya termasuk di antaranya.”

 

Ummu Salamah berkata: ”Engkau tidak termasuk di dalamnya, dan aku tidak merekomendasikan seseorang-pun setelah dirimu.”

 

Dari Zuhri berkata, ”Abdurrahman bin ’Auf bershadaqah pada masa Rasulullah dengan separuh ‘hartanya, yaitu 4.000 dinar. Kemudian bershadaqah lagi dengan 4O ribu, kemudian bershadaqah lagi dengan 40 ribu dinar. Kemudian ia membawa 500 kuda di jalan Allah . Kemudian ia membawa 1500 onta di jalan Allah.

Dan, mayoritas hartanya dari perdagangan.

 

Dari Said bin Ibrahim dari ayahnya, bahwa Abdurrahman bin Auf diberi makanan sementara ia tengah berpuasa. Ia berkata: Mushab bin Umair terbunuh sementara ia seorang yang dermawan. Ia dikafani dengan kain yang bila kepalanya ditutup kakinya terlihat, dan bila kakinya ditutup kepalanya terlihat. (Dan menurutku) ia berkata, ”Hamzah terbunuh sementara ia seorang dermawan yaitu tidak terdapat sesuatu pun untuk mengkafaninya kecuali sehelai kainkemudian dunia dilapangkan untuk kita selapang-lapangnya. (Atau ia berkata), ”Kami diberi dunia apa yang telah diberikan kepada kami dan kami khawatir itu adalah kebaikan yang disegerakan untuk kita. Kemudian ia menangis sehingga ia meninggalkan makanan.

 

Pada suatu saat Abdurrahman menangis lalu kami bertanya kepadanya, ”Wahai Abu Muhammad mengapa kamu menangis?” Ia menjawab, ”Rasulullah meninggal sementara ia dan keluarganya belum pernah kenyang dari roti gandum dan ia tidak memperlihatkan kepada kami.