Mengapa Ragu Berjuang di Jalan Allah?

 

Oleh : KH. Farid Ahmad Okbah. MA

 

Apakah hidup kita hanya untuk isteri kita? Atau untuk anak-anak kita? Apakah hidup kita hanya untuk bersenang-senang melihat kenyataan duniawi yang seperti ini?

Apa arti hidup kita jika tidak untuk Allah? Dan kita pun telah menyatakan;

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Mengapa kita ragu-ragu berjuang di jalan Allah?

Apa yang terjadi di negeri manapun di dunia ini, apabila ada saudara kita yang terluka, tersakiti, dan dizalimi, maka wajib bagi kita untuk menolong mereka, sesuai dengan kemampuan kita.

Allah mengukur iman kita bukan dari omongan, bukan dari tampilan, namun mengukur dengan seberapa besar pengorbanan kita untuk Allah Ta’ala

Keimanan bukan hanya pembualan, bukan hanya kata-kata, tapi iman yang melahirkan pengorbanan, siap berkorban dengan harta dan jiwa