Mengenal Buku “Bahaya Memahami Hadits Tanpa Melihat Konteks”

No Halaman Perihal Uraian
1 3-4 / P 4 Memahami kondisi dan memahami hukum

 

Rasulullah ` membolehkan infak seluruh harta. Padahal dalam hadits lain beliau tidak membolehkan.

Penulis mengajak kita untuk memahami kondisi, personal, masyarakat, dan masalah. Lalu memahami hukum yang berbeda
2 4 / P 2-3 Penting memahami Asbabul Wurud hadits, karena ada hadits-hadits yang memiliki sifat relative. Penulis menyebutkan poin pembahasan di awal.
3 4-5 Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjawab salam (QS. An-Nisa’: 86).

Namun Nabi ` memerintahkan kita cukup menjawab “wa ‘alaikum”

Padahal itu hanya untuk Yahudi yang mengucapkan “As Saamu ‘alaikum”

Penulis mengajak kita untuk memahami kontradiksi dalil, serta memecahkannya dengan memahami Asbabul Wurud.

Serta menjelaskan jawaban Ulama, sebagaimana beliau jelaskan pada halaman. 7

4 10 Definisi Asbabul Wurud

ما دعا الحديث إلى وجوده أيام صدوره

 

“Apa yang menyebabkan munculnya sebuah hadits pada masa itu terjadi”

Penulis tidak bertele-tele dalam menjabarkan perbedaan pendapat dalam definisi.

Sekaligus menyimpulkan mana yang paling ringkas, yakni Jami’ Qathi’.

5 13-20 Asbabul Wurud ada 3;

1.       Sabab Dhahir

Tidak perlu penelitian. Seperti karena pertanyaan dan permintaan.

Contoh: Hadits Laa Taghdhab & Al Abbas yang meminta bagian harta.

 

2.       Sabab Khafiy.

Perlu penelitian. Yakni maksud tersembunyi dari sebuah hadits.

Contoh: Saat ditanya apakah haji wajib setiap tahun. Nabi ` hanya diam, karena khawatir akan diwajibkan, umat tidak mampu, dan itu sebagai hukuman atas pertanyaan tersebut.

 

3.       Sabab Mubayyan.

Sabab yang khafi, namun setelah itu dijelaskan oleh Nabi ` atau perawi.

Contoh: Nabi ` melarang pemuda untuk cium istri saat puasa, namun membolehkan untuk orang tua.

Juga Abdullah bin Mas’ud yang ikut menjelaskan mengapa Nabi ` memilih waktu yang tepat untuk ta’lim.

Penulis menyebutkan klasifikasi Asbabul Wurud, supaya dapat dimengerti antara yang perlu diteliti dan yang sudah jelas.
6 21-37 Faktor Sababul Wurud

1.       Faktor Penyampai Hadits

Contoh:

–          Berbekam di kepala

–          Shalat dengan duduk

–          Shalat dengan bersandar pada tiang

Hal-hal di atas tidak dihukumi sunnah, karena beliau tidak meniatkannya sebagai ibadah.

 

2.       Faktor Penerima Hadits

Contoh:

–          Nabi ` tidak mengubah Ka’bah karena khawatir kaumnya yang baru masuk Islam, lalu kembali lagi ke dalam kekufuran.

–          Beliau memberikan jawaban yang berbeda-beda saat ditanya amal apa yang paling utama.

–          Dijelaskan dalam QS. Yusuf : 55-56, bahwa Yusuf meminta jabatan. Namun Nabi ` juga melarang dalam hadits. Artinya tidaka boleh bagi siapa yang berambisi kekuasaan dan melupakan akhirat.

 

3.       Faktor Waktu

Contoh:

–          Nabi ` pernah melarang untuk menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, lalu mengijinkannya.

–          Nabi ` tidak ingin ikut campur dalam menentukan harga pasar. Karena para pedagang masa itu adalah para pedagang yang baik, dan permasalahan hanya sedikit. Namun penentuan harga terjadi pada masa Umar, dan difatwakan oleh Rabi’ah bin Abi Abdirrahman.

 

4.       Faktor Tempat

–          Nabi ` memerintahkan zakat fitrah dengan kurma dan gandum. Tidak mungkin ini diamalkan di negeri kita.

–          Nabi ` memerintahkan ke Barat dan Timur saat buang hajat.

 
7 27 Di sela-sela penjelasan, penulis menganjurkan untuk mengkaji ilmu Ikhtilaf Hadits, supaya bisa mempertimbangkan antara hadits yang berbeda.  
8 29 Politik hukumnya fardhu kifayah.

Apabila untuk memperbaiki keadaan, maka berpolitik itu terpuji.

Syaikhul Islam berkata,

“Islam tidak mencegah seseorang untuk meminta jabatan politik, sepanjang menghasilkan manfaat bagi agama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 8/68)

 
9 39-45 Cara Menentukan Asbabul Wurud

1.       Nash Nabawi

Nash Nabawi Sharih

–          Menyiramkan tujuh qirbah ke kepala, ketika sakit. Supaya beliau bisa kuat memberi nasihat.

–          Kata-kata yang menjadi tanda Nash Nabawi: إذن, حتى, لكن

 

Ima’ Nabawi (Isyarat)

–  Qauli. Seperti: Nabi ` merapikan pakaiannya karena malu dengan Utsman.

–  Fi’li. Seperti: Nabi ` mencubit kaki Aisyah.

 

2.       Ucapan Shahabat

Nabi ` pernah menjamak antara dhuhur dan Ashar di Madinah. Lalu Ibnu Abbas menjelaskan supaya tidak memberatkan umatnya.

 

3.       Ijtihad

 

 

 
10 47 Menentukan ijtihad dalam Asbabul Wurud Hadits, hanya hadits yang sabab-nya khafi, bukan zhahir.  
11 47-58 Instrumen Ijtihad dalam Asbabul Wurud

1.       Mempelajari Teks Lain Yang Berhubungan Dengan Topik Yang Sama

Contoh: Nabi ` mengeratkan ikat pinggang pada 10 hari terakhir Ramadhan. Beliau bersabda dalam hadits lain agar mencari Lailatul Qadar padanya.

 

2.       Faktor Waktu

Contoh:

Nabi ` memerintahkan agar tidak melepaskan burung. Imam Syafii berkata karena saat itu kepercayaan Jahiliyyah mereka tathayyur, jika terbang ke kiri merasa sial, jika ke kanan merasa beruntung.

 

3.       Faktor Tempat

Contoh:

Nabi ` bersabda bahwa jika rumah tidak memiliki kurma, maka penghuninya akan lapar. Iya, karena waktu itu di Madinah makanan pokoknya adalah kurma.

 

4.       Memahami Personal

Contoh: Nabi ` membolehkan Abu Bakar untuk menginfakkan seluruh harta. Padahal ada larangan dalam QS. Al-Furqan: 67.

 

5.       Menggunakan Sains

Contoh: Nabi ` menganjurkan berbuka dengan kurma, karena kurma mudah dicerna.

 
12 61-68 Asbabul Wurud Untuk Memahami Fiqih Hadits

1.       Menghindari Kontradiksi Al-Qur’an dan Hadits

Contoh:

Dalam QS. An-Nisa’: 97-99 Allah mewajibkan untuk hijrah. Namun Nabi ` bersabda tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah. Maksudnya; penduduk Makkah tidak perlu lagi hijrah, karena Makkah sudah menjadi negeri Islam.

 

2.       Menghindari Kontradiksi Hadits

Contoh:

Nabi mengajurkan untuk menanam pohon karena akan berpahala jika dimakan manusia dan binatang. Namun beliau juga melarang untuk memiliki lahan pertanian.

Ibnu Hajar berijtihad, yaitu cocok tanam yang melalaikan dari agama.

 

3.       Memperluas Cakupan Hadits

Contoh:

Khamr itu dari kurma dan anggur, sebagaimana disebutkan dalam satu hadits. Namun hadits yang lain mengatakan setiap yang memabukkan itu khamr.

Sehingga apapun jenisnya, dari appun dibuat, jika memabukkan maka ia khamr.

 

4.       Menghindari Kontradiksi Hadits dan Realitas

Contoh:

Perintah menghadap ke timur dan barat saat buang hajat. Itu tidak diterapkan bagi wilayah tertentu.