Syaikh-Syaikh Yang Dijumpai Syaikhuna Farid Okbah

 

Oleh : Muizz Abu Turob حفظه الله

Sekian lama kami bergaul dan menuntut ilmu dari Syaikhuna Al-Walid Fadhilatul Ustadz Farid Ahmad Okbah حفظه الله, beliau terkadang menceritakan kepada kami tentang nama-nama Syaikh yang beliau temui. Dan sudah tidak asing lagi di telinga kita, beliau pernah belajar di majelis Syaikh Utsaimin selama 5 bulan. Di sela-sela waktu itu, beliau tidak bosan mendengar kaset Syaikh Utsaimin siang dan malam. Sehingga dengannya beliau dapat mengejar pelajaran-pelajaran sebelumnya. Dari situlah beliau mengenal banyak murid Syaikh Utsaimin, di antaranya adalah Syaikh Prof. DR. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qadhi. Terlihat begitu akrab antara Syaikh Al-Qadhi dan Syaikhuna Farid, hingga Syaikh Al-Qadhi menyempatkan hadir ke Indonesia, dan berkunjung ke Yayasan Islamic Center Al-Islam Bekasi.

Bahkan kami saksikan langsung saat di Jeddah bertemu dengan Syaikh Al-Qadhi. Saat itu kami mengikuti majelis Syaikh Al-Qadhi selama 4 hari. Di sela-sela itu, kami menemui beliau dan menyampaikan bahwa kami adalah utusan Syaikh Farid, maka terlihat wajah yang gembira dan sambutan hangat. Beliau berkata kepada hadirin di sekitar beliau, “Syaikh Farid adalah sahabat saya.”

Perlu diketahui pula bahwa Syaikh Al-Qadhi termasuk ulama ternama di Unaizah. Beliau guru besar aqidah di Jami’ah Al-Qashim, juga sebagai supervisor di Muassasah Ibnu Utsaimin Al-Khairiyyah. Saat di Jeddah, kami mendengar langsung dari Syaikh DR. Khalid bin Ied Al-Juraisy bahwa Syaikh Al-Qadhi termasuk Khawash Thalabah (Murid Kelas Eksklusif) Syaikh Utsaimin.

Baiklah, kembali ke pembahasan awal kita; Syaikhuna Farid حفظه الله telah melalang buana ke sana kemari, baik negeri Barat maupun negeri Timur. Tersebut banyak ulama yang beliau temui, mungkin tulisan singkat ini belum mampu mewakili semuanya, namun semoga dapat memberikan sedikit gambaran.

Syaikhuna Farid حفظه الله pernah bertemu dengan Syaikh Prof. DR. Yusuf Al-Qaradhawi. Tidak heran, karena Syaikhuna Farid sering mewakili Indonesia untuk diundang ke Al-Ittihad Al-‘Alami Li Ulama’ Al-Muslimin, yang diketuai langsung oleh Syaikh Al-Qaradhawi. Yang menakjubkan, Syaikhuna Farid menemukan kesalahan dalam buku-buku karya Syaikh Al-Qaradhawi, lalu mengkoreksinya dan ditunjukkan langsung di hadapan Syaikh Al-Qaradhawi. Di antaranya Syaikhuna menjelaskan bahwa Syiah tidak memiliki konsep jihad, kecuali menunggu Al-Mahdi Al-Muntazhar (meskipun telah diubah-ubah oleh Khomeini). Saat itulah Syaikh Al-Qaradhawi membenarkan ucapan Syaikh Farid, dan langsung memanggil sekretarisnya untuk menandai halaman dan merevisi untuk cetakan berikutnya.

Syaikhuna Farid حفظه الله juga pernah berkunjung ke Darul Hadits Dammaj, Sha’dah, Yaman, untuk bertemu dengan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i. Syaikhuna menceritakan bahwa beliau dihadiahi langsung beberapa kitab karya Syaikh Muqbil. Syaikhuna berkomentar, “Syaikh Muqbil adalah seorang Syaikh yang santun, lembut, tidak keras. Kenapa murid-muridnya sangat keras?”. Saat itu Syaikhuna Farid حفظه الله berkata kepada para murid Syaikh Muqbil, “Kalian jangan hanya cukup dengan Syaikh Muqbil, beliau pakar hadits, fiqihnya kurang. Sana pergi ke Syaikh Utsaimin, kalian akan dapat fiqih yang sangat luas.”

Syaikhuna Farid حفظه الله juga berkunjung ke Mesir. Saat itu beliau bertemu dengan Syaikh Al-Muhaddits Musthafa Al-Adawi, seorang Syaikh produktif yang karyanya sangat banyak, banyak pula yang sudah ditranslate ke dalam bahasa Indonesia. Syaikh Al-Adawi saat bertemu dengan Syaikhuna, beliau merasa takjub dengan kefasihan bahasa Arab Syaikh Farid, lantas bertanya, “Kamu orang Saudi ya?” Syaikhuna menjawab, “Bukan, saya orang Indonesia!”

Syaikh Al-Adawi kembali bertanya, “Tapi tinggalnya di Saudi?” Syaikhuna menjawab, “Tidak, saya tinggal di Indonesia juga.”

Syaikh Al-Adawi bertanya lagi, “Tapi pernah tinggal lama di Saudi?” Syaikhuna menimpali, “Tidak, hanya beberapa bulan saja.”

Syaikh Al-Adawi melanjutkan, “Bahasa Arab kamu fasih, kamu belajar di mana?” Syaikhuna menjawab, “Saya hanya belajar di Indonesia.”

Saat itulah Syaikh Al-Adawi menawarkan kepada Syaikhuna حفظه الله, “Kamu jangan pulang dulu ke Indonesia. Di sini selama 3 bulan, saya akan berikan seluruh ilmu saya untuk kamu!” Namun saat itu Syaikhuna harus kembali ke Indonesia, karena banyak tugas dakwah yang harus diselesaikan.

Saat Syaikhuna حفظه الله di Madinah, beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad. Saat itu ternyata di sana sedang ada putra beliau, yaitu Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq Al-Abbad (professor termuda di Saudi). Syaikhuna menceritakan bahwa saat di rumah, Syaikh Abdurrazzaq tidak pernah mau menjawab pertanyaan apapun. Setiap kali ditanya, beliau hanya menanggapi, “Tanya bapak!” Yaitu Syaikh Abdul Muhsin. Syaikhuna mengomentari, “Masya Allah, ini adalah akhlak yang luar biasa, meskipun Syaikh Abdurrazzaq begitu alim, namun beliau tidak mau mendahului ayahnya!”

Syaikhuna juga menceritakan bahwa majelis Syaikh Abdul Muhsin adalah majelis yang paling ramai dengan pengunjung. Dan beliau fokus mensyarah hadits.

Syaikhuna حفظه الله juga menceritakan pernah bertemu dengan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh (Menteri Agama Saudi). Syaikh Shalih adalah sosok yang memiliki wibawa tinggi. Terlihat sekali saat berjalan, beliau penuh wibawa, kata Syaikhuna Farid.

Kami pernah bertanya kepada Syaikhuna, “Bagaimana menurut Syaikh Farid tentang Syaikh Hakim Al-Muthiri?” Syaikhuna menjawab, “Masya Allah, beliau adalah orang yang alim. Bukan hanya itu, beliau orang yang sangat kaya. Saya bertemu dengannya 2 kali, di Qatar dan di Turki. Mu’tamar Internasional yang diselenggarakan di Turki itu, ternyata semuanya dibiayai oleh Syaikh Hakim. Semuanya, baik dari hotel, makan, sampai tiket pulang-pergi para peserta mu’tamar ditanggung oleh Syaikh Hakim. Ini dia, ulama yang kaya raya, seperti Imam Abdullah bin Al-Mubarak.”

Syaikh Prof. DR. Hakim Al-Muthiri termasuk tokoh ternama di Hizb Al-Ummah di Kuwait. Beliau juga sebagai guru besar tafsir dan hadits di Jami’ah Al-Kuwait. Beliau termasuk fuqaha kontemporer terpenting yang giat menulis fiqih-fiqih Siyasah.

Dalam forum-forum pertemuan Ulama Internasional, Syaikhuna حفظه الله bukanlah orang yang hanya diam menyimak penuturan dan presentasi para pembicara. Beliau turut aktif menyampaikan ide dan berkomentar di hadapan para tokoh Ulama, baik di Qatar, Makkah, dan lainnya. Di hadapan para Ulama itu, beliau pernah menyampaikan tentang kristenisasi, beliau juga mengusulkan adanya kaderisasi pemimpin bukan hanya ulama, dan masih banyak pendapat-pendapat lainnya.

Masih banyak tokoh ulama Internasional yang ditemui Syaikhuna حفظه الله, seperti;

Syaikh Prof. DR. Nashir bin Sulaiman Al-Umar, ketua Al-Hai-ah Al-Alamiyah li Tadabbur Al-Qur’an

Syaikh Prof. DR. Abdullah Al-Muthlaq, anggota Hai-ah Kibar Al-Ulama Saudi

Syaikh DR. Muhammad Al-Hasan Walad Didu, Ketua Markaz Takwin Ulama Mauritania

Syaikh DR. Muhammad Al-Arifi, ketua Ikatan Dai Internasional

Syaikh Wahid Abdussalam Bali, pakar ruqyah Internasional, penakluk benua Afrika abad 21.

Syaikh Prof. DR. Khalid Al-Mushlih, Ketua Persatuan Dai Buraidah, murid Syaikh Utsaimin.

Banyak nama-nama yang belum tersebut dan kisah-kisah di balik itu, namun sekali lagi semoga menjadi tambahan informasi bagi mereka yang ingin mengenal Syaikhuna Farid Ahmad Okbah حفظه الله.

Mohon maaf, sebagai tambahan; jika Anda ingin tahu bagaimana keilmuan Syaikhuna Farid, jangan dilihat dari ceramah-ceramah umum beliau. Karena terkadang beliau mengulangi isi ceramah antara satu tempat dan lainnya. Namun, cobalah Anda menanyakan suatu permasalahan agama kepada beliau, atau simaklah saat beliau ditanya tentang sesuatu. Saat itulah, akan keluar referensi Al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab. Termasuk di dalamnya masalah politik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

Semoga bermanfaat!

 

Muizz Abu Turob

Islamic Center Al-Islam Bekasi, 26-11-2017