Berkenalan Dengan Al-Akh Ibrahim Putra Syaikhuna Farid Okbah حفظه الله

 

Selama kami belajar dengan Syaikhuna Farid حفظه الله, kami berkenalan pula dengan putra-putra beliau. Di antara yang paling menonjol bernama Ibrahim. Syaikhuna sering menyebut namanya sekaligus bangga dengannya. Tampaknya Ibrahim ini lah yang akan menjadi penerus Syaikhuna, insya Allah. Kita doakan semoga Allah memberikan Al-Akh Ibrahim ilmu yang bermanfaat dan menjadi Ulama Amilin. Aamiin.

Yang kami tahu dari Ibrahim, ia sudah berkunjung ke Saudi beberapa kali. Kali yang pertama dan kedua untuk umrah, sekaligus berkunjung ke Yordan dan Palestina. Kemudian ada Syaikh utusan dari program Huffadzul Wahyain Madinah ke Indonesia, untuk menguji kemampuan hafalan para Hafidz Indonesia. Syaikh itu berkunjung ke beberapa lembaga, di antaranya ke lembaga kami di Islamic Center Al-Islam Bekasi.

Ternyata saat itu yang membersamai Syaikh adalah Al-Akh Ibrahim. Syaikh memberikan syarat; hanya hafidz saja yang boleh ikut ujian. Lalu Syaikh menguji para mahasiswa Al-Islam, termasuk saat itu kami ikut, namun tidak lulus. Adapun Ibrahim, ia lulus dan kemudian diutus ke Madinah selama 13 hari untuk menghafal hadits di sana.

Setidak-tidaknya saat itu Ibahim hafal 500 hadits dari Al-Jam’u Baina Ash-Shahihain, atau mungkin lebih. Adapun saat ini, tentu banyak lagi hadits yang ia hafal, karena kami dengar ia masih mengikuti daurah Hifdzul Hadits baik di Lombok dan Bogor. Terakhir kami belum menanyakan berapa hadits yang telah dihafal, mungkin sudah 1000 atau lebih, atau lebih dari yang kita kira. Yang tahu mohon kami diberi tahu.

Saat I’tikaf bersama, kami lihat kemana-mana Ibrahim membawa buku hadits dan mengulang-ulangnya. Ibrahim memiliki sifat agak sedikt pemalu, tapi juga humoris. Ia termasuk rajin bertanya kepada asatidz dan masyayikh. Suatu ketika ia berniat di Al-Islam selama 40 hari, selama itu pula ia tidak ingin tertinggal takbir shalat jamaah. Lalu ia gunakan hari-harinya untuk murajaah hafalan Al-Qur’an. Karena ia sendiri telah menyelesaikan hafalan di Pesantren Kafilah, Jakarta. Ternyata sebelum I’tikaf Syaikhuna Farid حفظه الله menyampaikan, “Antum deket-deket sama Muizz, Antum ambil ilmu darinya!” Masya Allah…

Ibrahim pun mencari-cari kami, lalu menyampaikan niatnya ingin belajar. Akhirnya kami sepakati belajar tafsir bareng. Saat kami sampaikan faedah-faedah ayat, ia juga menyampaikan faedah yang lain, masya Allah. Karena kesibukan di luar, kami tidak fokus untuk itu, padahal Ibrahim terus mencari-cari. Setiap kali kami sampai Al-Islam, Ibrahim bertanya, “Ustadz, kemana aja, sibuk banget sih, terus gimana belajarnya?” Dengan ringan kami jawab, “Ibrahim, Antum nggak usah belajar dari Ana, Antum itu udah pinter. Justru Ana belajar sama Antum!” Masya Allah…

Kami juga bersama Ibrahim saat mengikuti daurah Internasional di Jeddah. Seperti biasa, Ibrahim adalah anak yang mudah bergaul dan bertanya, sekaligus humoris. Bahkan pertanyaannya pun membuat tertawa. Saat itu pemateri membahas masalah-masalah fikih kontemporer. Yang duduk sebagai pembicara adalah Syaikh DR. Khalid bin Ied Al-Juraisy, dosen fikih di Ummul Qura University.

Para hadirin begitu serius mendengarkan pemaparan Syaikh, dan banyak sekali kertas pertanyaan masuk ke meja beliau. Masing-masing mengajukan pertanyaan yang dirasa penting dan para hadirin begitu antusias mendengar jawaban beliau. Di tengah-tengah keseriusan itu, tiba-tiba Ibrahim melontarkan pertanyaan yang membuat tertawa Syaikh dan para hadirin.

Saat membaca kertasnya, Syaikh mengatakan, “Ini ada pertanyaan lucu!”

Pertanyaannya;

فضيلة الشيخ, إذا سقطت المرأة من الدرجة النارية ثم أنصرها, هل لي أجر من نصرها, أم من إثم بأن يدي يلمس يدها؟

“Wahai Syaikh, jika ada perempuan jatuh dari motor, lalu saya menolongnya, apakah saya mendapat pahala, atau justru mendapat dosa karena tangan saya menyentuh tangannya?”

Para hadirin pun tertawa…

Syaikh menjawab;

هذا سؤال غريب… الأمور بمقاصدها, إذا نوى بنصرها فله أجر و إلا فله وزر. كما لو دفع الرجل المرأة التي تمر بأمامه عند الصلاة, كما حصل في الحرم

“Ini ada pertanyaan lucu… perkara itu sesuai dengan niatnya. Apabila ia berniat menolongnya maka baginya pahala, jika dia niat selain itu maka ia berdosa. Sebagaimana jika ia menghalangi seorang perempuan yang hendak lewat di depannya saat shalat. Sebagaimana itu sering terjadi di Masjidil Haram.”

Saat ini Ibrahim berada di Al-Azhar Mesir, kemarin lusa Syaikhuna Farid memberi tahu bahwa Ibrahim hampir selesai mengambil sanad Al-Quran dari Syaikh. Ibrahim ingin memfokuskan diri belajar tafsir, sehingga Syaikhuna sering mengatakan, “Antum jangan pulang ke Indonesia, sebelum lebih baik daripada Quraisy Syihab!”

Mungkin itulah sekelumit yang kami ketahui. Semoga Ibrahim selalu istiqamah, dan menjadi pewaris keilmuan, sebagaimana ayahnya. Aamiin.